Warga Sulteng Tewas Dimutilasi, Polisi Buru Kelompok MIT Ali Kalora, Peneliti: Kirim Saja Kopassus

Kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora kini tengah menjadi sorotan.

Warga Sulteng Tewas Dimutilasi, Polisi Buru Kelompok MIT Ali Kalora, Peneliti: Kirim Saja Kopassus
Kontributor Poso Kompas TV, Mansur
Foto baliho DPO terbaru jaringan Santoso kelompok Ali Kalora pada Jumat (23/9/2016). 

Seharusnya, kata dia, aparat keamanan langsung sigap menuntaskan riak sekecil apapun yang ditimbulkan kelompok MIT Ali Kalora.

"Usulan saya, kalau memang mau ingin cepat tuntas dengan pendekatan keamanan yang kini jadi pilihan dominan, maka seharusnya kirim saja pasukan TNI dari unit Raider atau Kopassus untuk memburu Ali Kalora dan kawan-kawannya, selesai," ujar Harits kepada Kompas.com, Kamis (3/1/2019).

Bahkan, semestinya setelah sukses melumpuhkan Santoso dan Basri, Operasi Tinombala tidak dihentikan hingga seluruh generasi penerusnya ditangkap habis.

Harits tak menampik bahwa, Kelompok MIT Ali Kalora memang sudah lama bergerilya di pegunungan Poso. Mereka pun hampir pasti menguasai medan di sana.

Namun, melihat pola serangan kelompok MIT Ali Kalora yang hit and run, dapat dipastikan ketersediaan amunisi mereka tidak terlalu banyak.

5 Fakta Kasus Pemerkosaan Siswi SMP di Lombok Timur, Korban Sempat Loncat dari Motor Karena Takut

Tanggapi Sri Mulyani Menteri Keuangan Terbaik Versi The Banker, Fahri Hamzah Beri Komentar Ini

Harits mengatakan, ini dapat menjadi celah bagi aparat keamanan untuk terus memukul mundur dan memaksa mereka menyerah.

Apalagi, jika keputusan menurunkan pasukan elite TNI Angkatan Darat (AD) tersebut ditambah dengan memutus suplai logistik ke kelompok mereka dari para simpatisan, Harits yakin eksistensi Ali Kalora cs akan terhenti.

"Ketahanan eksistensi mereka sangat bergantung kepada suplai logistik. Suplai ini bisa saja didapat dari simpatisan atau jejaring mereka di bawah," ujar Harits.

TNI-Polri juga dinilai jauh lebih unggul dari sisi jumlah personel, logistik, alat utama sistem persenjataan (alutsista), dan pengetahuan di bidang strategi tempur, terutama pertempuran teknik gerilya di hutan.

"Jadi, memang ini memerlukan keputusan politik yang tegas, agar tidak berlarut-larut dan Operasi Tinombala juga tidak berlangsung berjilid-jilid. Ingat, operasi militer terlalu lama itu juga dapat kontra produktif terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan psikologi masyarakat," lanjut dia. (TribunJakarta.com/Kompas.com)

Penulis: Mohamad Afkar Sarvika
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved