Breaking News:

Kota Penyangga Jakarta, Depok Rawan Penularan HIV/AIDS dan Peredaran Narkotika

Kota Depok sebagai penyangga Jakarta dan wilayah perbatasan berpotensi tertular penyakit HIV/AIDS dan sasaran penyalahgunaan narkotika.

Penulis: Bima Putra | Editor: Y Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kemacetan di Jalan Margonda, Kota Depok 

"Memang enggak mungkin bagi pengelola apartemen atau hotel kalau harus mengecek aktivitas semua orang di tempat mereka. Bagaimanapun mereka menjalankan bisnis. Tapi kita tetap butuh peran mereka (Pengelola)," tuturnya.

Siregar menyatakan telah memberi intruksi khusus kepada seluruh Babinsa Kodim 0508 Depok yang berjumlah lebih dari 200 personel.

Yakni untuk memantau kegiatan penyimpangan seksual, dan penyalahgunaan narkotika di kosan, apartemen, dan hotel setiap Kelurahan tempat mereka ditugaskan.

Menanggapi jumlah warga Depok penderita HIV/AIDS di Depok tahun 2018 yang melonjak jadi 340 orang, Siregar mengatakan aktivitas LGBT turut membantu penularan penyakit.

Merujuk pada data Dinas Kesehatan Depok, dia menuturkan ada 1.400 Gay di Depok yang berpotensi turut membuat penularan HIV/AIDS di Depok meningkat.

"Sekarang penularan HIV/AIDS tidak lagi karena penyalahgunaan narkotika, tapi juga karena aktivitas seksual di LGBT. Kalau tidak kita awasi jumlah penderita HIV/AIDS dapat bertambah," lanjut Siregar.

Terkait penyalahgunaan narkotika, Siregar mengatakan sabu jadi jenis narkotika yang kini jadi primadona meski harganya lebih mahal dibanding ganja.

Selain karena efek sabu yang lebih kuat, pecandu sekarang dipengaruhi 'kebanggaan' sehingga rela merogoh uang lebih banyak.

"Yang lebih banyak itu sabu, harganya memang lebih mahal tapi tetap banyak pecandu yang mencari. Enggak hanya di Depok saja, di wilayah pelosok yang dicari pecandu ya sabu, sudah bukan ganja," jelas dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved