Pilpres 2019

Berakhirnya Pelarian Penyebar Hoax 7 Kontainer Surat Suara: Berikut 6 Faktanya

Bagus Bawana Putra kreator sekaligus penyebar hoaks lewat rekaman tentang tujuh kontainter surat suara sudah tertangkap.

Berakhirnya Pelarian Penyebar Hoax 7 Kontainer Surat Suara: Berikut 6 Faktanya
Tribunnews.com/Vincentius Jyestha
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (dua dari kanan) bersama Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Albertus Rachmad Wibowo (dua dari kiri) dan Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Dani Kustoni (kanan) dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (9/1/2019). 

Pemeriksaan suara tersangka BBP dengan rekaman suara melalui investigasi ilmiah.

"Suara yang beredar otentik suara BBP," jelas dia.

5. Sebar lewat Twitter dan WAG

BBP, kata Rachmad, disebut membuat dan menyebarkan rekaman ke sejumlah platform media sosial seperti Twitter.

Terutama melalui aplikasi WhatsApp Group (WAG).

Berita hoax tujuh kontainer surat suara tercoblos tersebut viral.

BBP lalu berusaha menghilangkan dengan membuang seluruh barang bukti seperti ponsel dan kartu SIM, termasuk menutup akun.

Ia kabur meninggalkan kediamannya di Bekasi.

6. Sengaja rekam suara

Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Dani Kustoni mengungkapkan modus operandi BBP.

Tersangka mengawali dengan men-cuitkan informasi hoaks soal tujuh kontainter surat suara melalui akun Twitter-nya.

Soal BBP, diyakini Dani, secara sengaja merekam suara tentang tujuh kontainer surat suara sudah tercoblos dengan maksud meyakinkan masyarakat info itu benar adanya.

"Yang bersangkutan dengan sengaja melakukan perekaman suara yang isinya meyakinkan kepada masyarakat yang mendengar voice bersangkutan seolah-olah sudah ada 7 kontainer terkait surat suara yang sudah dicoblos," terang Dani.

Dari perbuatan BBP, kepolisian menyampaikan unsur kesengajaan telah terpenuhi.

Apalagi, kata dia, tersangka sengaja menghapus barang bukti seperti menutup akun, membuang ponsel dan kartu SIM-nya lalu melarikan diri.

Penyidik menjerat BBP Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman maksimal 3 tahun penjara.

Wasekjen Demokrat Andi Arief salah satu yang menanggapi serius informasi soal tujuh kontainer lewat cuitan di Twitter.

"Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya, karena ini kabar sudah beredar," begitu cuitan Andi Arief pukul 20.05, Rabu (2/1/2019)

Cuitan Andi Arief soal tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos.
Cuitan Andi Arief soal tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos. (Tangkapan layar cuitan Andi Arief)

Cuitan itu belakangan dihapus Andi Arief.

Ketua KPU RI Arief Budiman mengatakan yang menyampaikan informasi tujuh kontainter surat suara sudah dicoblos bukan hanya Andi Arief.

Menurut Arief di kantor Bawaslu RI, Kamis (3/1/2019) malam, pihaknya sudah mengetahui cuitan tersebut ramai di Twitter sejak Rabu siang.

Ia menegaskan rekaman suara dan informasi tujuh kontainer surat suara meresahkan.

Sehingga KPU RI melapor ke Bareskrim Mabes Polri agar segera diselidiki.

"Bukan karena kemudian Andi Arief menulis di Twitter-nya, kemudian kami mengambil sikap itu. Tidak," kata Arief Budiman. (TribunJakarta.com/Tribunnews.com)

Penulis: yogi gustaman
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved