Limbah Pabrik Tempe dan Tahu di Pasar Minggu, Kasudin LH Jaksel: Lahan Pengolahan Limbah Tak Ada

Apalagi, limbah yang mengendap di kali hingga menguarkan aroma bau busuk yang menusuk hidung.

Limbah Pabrik Tempe dan Tahu di Pasar Minggu, Kasudin LH Jaksel: Lahan Pengolahan Limbah Tak Ada
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
(Ilustrasi) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memasang papan larangan aktivitas pemindahan limbah di lokasi ditemukannya gundukan tanah diduga limbah, di kawasan RW 07, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (9/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Puluhan pabrik kecil pembuatan tempe dan tahu membuang limbah pengolahannya langsung menuju saluran air penghubung (PHB) yang terletak di belakang Universitas Nasional (Unas), Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Imbasnya, saluran air kian tercemar dan berwarna keruh.

Apalagi, limbah yang mengendap di kali hingga menguarkan aroma bau busuk yang menusuk hidung.

Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Syarifudin, pencemaran kali imbas limbah pabrik tempe maupun tahu disebabkan tak adanya tempat pengolahan limbah.

Alhasil, limbah pun langsung menuju kali hingga menimbulkan sedimentasi di sepanjang kali PHB tersebut.

Pihaknya sudah membicarakan terkait dengan tempat pengolahan limbah bagi pabrik tempe maupun tahu namun terkendala tidak adanya lahan untuk membangun itu.

"Karena lahannya enggak ada, mau gali buat (tempat pengolahan limbah) itu dimana?" bebernya kepada TribunJakarta.com pada Minggu (13/1/2019) di kantor Walikota Jakarta Selatan saat kegiatan Antasari Sky Sport.

Saluran PHB yang telah dipenuhi oleh endapan limbah pabrik maupun kotoran manusia itu bisa ditanggulangi dengan membuat sebuah pengolahan limbah berukuran besar.

"Kalau pemerintah punya anggaran, bisa membuat pengolahan limbah komunal itu ke depan pemikirannya supaya nanti enggak diceburin langsung ke kali," tuturnya.

Puluhan pabrik tempe dan tahu sebenarnya tidak diperbolehkan dibangun di pinggir kali tanpa adanya sistem pengolahan air limbah secara baik.

Saluran Air Penghubung (PHB) Unas Berbau Busuk, Kasatpel SDA: Penumpukan Ini Sudah Bertahun-Tahun

Wali Kota Jakarta Selatan Sebut Keberadaan Sarang Nyamuk di Gandaria Selatan Terbilang Rendah

"Tapi pemerintah kan harus bijak, kalau distop semua mereka (pekerja pabrik tahu dan tempe) enggak bisa makan," lanjutnya.

Syarifudin mengamini tak sedikit pabrik-pabrik tempe dan tahu yang menghiasi bibir kali di Jakarta Selatan.

Seperti di Mampang Prapatan, pabrik tempe dan tahu menghiasi bantaran Kali Krukut.

"Di Mampang itu kan bangunannya enggak permanen, mepet ke Kali Krukut. Dari Garis Sempadan Bangunan (GSB) kan juga mepet tapi tanahnya milik mereka. Kemarin kita berpikir mungkin ada kebijakan dari pemerintah. Karena lahannya enggak ada," tandasnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved