Tak Perlu Konsultasi Jika Malu, Aplikasi Andorid E-Jiwa Deteksi Status Kejiwaan Seseorang

Dengan adanya program e-Jiwa yang Luigi cetuskan akan meminimalisir kerentanan warganya mengalami gangguan jiwa ke tahap akut.

Tak Perlu Konsultasi Jika Malu, Aplikasi Andorid E-Jiwa Deteksi Status Kejiwaan Seseorang
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Kepala Puskesmas Cilandak Dokter Luigi bersama aplikasi e-Jiwa pada Rabu (16/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, CILANDAK - Masih banyak penderita gangguan jiwa yang belum terdeteksi.

Stigma buruk yang kadung melekat dalam pandangan sebagian besar orang membuat si penderita tak ingin berobat.

Sebab, mereka enggan disebut sebagai orang yang bermasalah atau terganggu kejiwaannya.

Hal itu diamini oleh Kepala Puskesmas Kecamatan Cilandak, dokter Luigi di Puskesmas Cilandak.

"Masyarakat masih asing datang berobat atau ke psikolog apabila mereka terganggu kejiwaannya. Penderita merasa malu. Takut dijudge orang gila. Padahal semua orang bisa mengalami kerentanan dalam jiwanya," kata Luigi kepada TribunJakarta.com, Rabu (16/1/2019).

Dengan adanya program e-Jiwa yang Luigi cetuskan akan meminimalisir kerentanan warganya mengalami gangguan jiwa ke tahap akut.

"Agar mindset itu berubah, kita sekarang menjemput bola langsung memeriksa kejiwaan warga agar suasananya adem kekeluargaan, " katanya.

Di dalam e-Jiwa terdapat indikasi warna mengenai status kejiwaan seseorang.

Hijau artinya kejiwaan seseorang dalam batas normal, Kuning menandakan seseorang membutuhkan konseling serta Merah berarti seseorang harus dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit.

Banyak Kasus Gangguan Jiwa Tak Terdeteksi, Puskesmas Cilandak Bantu Redam dengan Aplikasi e-Jiwa

Luigi melanjutkan dengan adanya kehadiran petugas KPLDH (Ketuk Pintu Layani Dengan Hati) yang menyambangi setiap rumah mampu menurunkan gangguan jiwa seseorang hingga 70 persen.

"Dengan screening awal hasilnya jauh lebih baik. Saat pemeriksaan kita lebih ke konseling. 90 persen kami dengarkan keluhan mereka sisanya kita yang bantu arahkan," lanjutnya.

Sementara itu, Poli Kesehatan Jiwa, Dokter Fitri Pratiwi menambahkan sebanyak 40 petugas KPLDH dikerahkan untuk memeriksa kesehatan jiwa warganya di wilayah Cilandak.

"Kendala di lapangan itu tingkat kecurigaan warga tinggi saat kita hadir, maksud tujuan apa. Tapi itu terlalu jadi masalah," katanya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved