Breaking News:

Pemilu 2019

Politisasi Agama Marak Jelang Pemilu 2019, Begini Penjelasan Menteri Agama

Dari segi formal, Islam bisa berarti NU, Muhamadiyah, dan lain lain. Sedangkan jika dimaknai secara luas agama bisa berarti banyak hal yang baik-baik.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, setelah menjafi pembicara di Al-Azhar BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (18/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Istilah politisasi agama, sering kali muncul di muka umum, terlebih kaitannya dengan jelang Pemilu 2019.

Politisasi agama sering dimaknai sebagai upaya berpolitik yang menggunakan agama sebagai 'jualannya'.

Meski banyak tafsiran, Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, memberikan penjelasan terkait istilah politisasi agama.

Menurut Lukman, agama bisa ditarik dalam aspek formal, maupun dalam pemaknaan yang labih luas.

Dari segi formal, Islam bisa berarti NU, Muhamadiyah, dan lain lain. Sedangkan jika dimaknai secara luas agama bisa berarti banyak hal yang baik-baik.

"Jadi kalau agama dalam bentuk formal, kita bisa berbeda-beda, ada NU ada Muhamadiyah, ada mazhab ini ada mazhab itu. Kita bisa berbeda-beda meskipun kita dalam satu Islam. Tapi kalau kita kepada esensi ajaran agama yang universal itu, menegakkan keadilan, melindungi hak asasi manusia, jangan berbohong, jangan menipu, itu kita sama dalam hal itu," jelasnya, setelah menjafi pembicara di Al-Azhar BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (18/1/2019).

Sebut Bakal Jadikan Jokowi Bebek Lumpuh, Amien Rais Diduga Telah Langgar Kampanye Pemilu

Dugaan Politisasi Agama Jelang Tahun Politik, Ketum PPP Romahurmuziy Beberkan Fakta Ini

Lukman meminta, politisasi agama harus membawa makna agama yang luas, agar tidak terjadi konflik antar golongan di agama yang sama.

"Jadi politisasi agama jangan membawa-bawa politik praktis dalam konteks agama yang sempit itu, yang formal. Jadi kita justru berbicara dalam makna yang luas, yang universal itu, dalam politik yang luas juga," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved