Breaking News:

Pilpres 2019

Soal Rencana Pemerintah Bebaskan Abu Bakar Baasyir, Sandiaga Uno: Biar Masyarakat yang Menilai

Sandiaga menambahkan, hukum sejatinya bukan sebagai alat untuk membantu kekusaan sesaat. Tapi harus menjadi supermasi bagi rakyat Indonesia.

Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Sandiaga Uno saat dijumpai di Desa Kedung Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Bekasi, Selasa, (22/1/2019). 

Diketahui, selain sudah berusia 81 tahun, Abu Bakar Ba'asyir juga sempat beberapa kali dirujuk ke rumah sakit.

Setelah semua berkas beres, rencananya Abu Bakar Ba'asyir akan bebas dalam waktu 1-2 hari ke depan.

Ia menegaskan pembebasan ini bukan trik politik Jokowi untuk menggaet suara pemilih jelang Pilpres 2019.

"Beliau itu sudah menjalani tahanan sudah hampir 9 tahun, dari 15 tahun pidana yang dijatuhkan pada beliau," ungkap Yusril.

"Kalau dibebaskan pun dengan syarat-syarat yang sangat berat. Tapi presiden mengatakan ya sudahlah, jangan memperberat syarat-syarat pembebasan beliau."

"Pertimbangan kita semata-mata karena kemanusiaan, penghormatan juga karena beliau seorang ulama," imbuh Yusril.

"Usia yang sudah lanjut dan pertimbangan kemanusiaan," beber dia.

Keluarga kangen Baasyir

Abdul Rochim Ba'asyir malah meminta pemerintah segera membebaskan ayahnya, Abu Bakar Ba'asyir.

Ia mengaku sangat ingin sang ayah dapat langsung berkumpul dengan keluarga di rumah.

"Kalau bisa hari ini langsung keluar hari ini jika perlu. Biar beliau bisa berkumpul dengan keluarga di rumah," ucapnya.

Sesampainya di rumah Abu Bakar Ba'asyir, kata Rochim akan melakukan perawatan kesehatannya yang semakin memburuk.

Rochim menjelaskan, seluruh tamu yang akan datang ke rumah akan dipilah untuk berbincang dengan mantan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia tersebut.

Pemilahan tamu untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan baik oleh keluarga, maupun keamanan nasional.

"Kami sendiri yang akan memilah siapa saja yang boleh datang. Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan," tukasnya.

Rochim mengaku sudah beberapa barang yang terkemas secara baik di dalam sel, termasuk buku dan kitab-kitab yang dibaca oleh Ba'asyir selama di penjara.

Pada Selasa (22/1/2019) ia dan pengacara akan kembali berkunjung untuk membereskan barang-barang tersebut.

"Ini yang jadi alasan juga, beliau tidak mau terburu-buru ya karena ingin beres-beres barangnya dulu. Bukan karena nunggu pilpres atau nunggu macam-macam," ungkap dia.

Pihak keluarga tengah mempersiapkan syukuran sederhana untuk Ba'asyir di Pondok Pesantren Ngruki Sukoharjo.

Seluruh santri dan tetangga dekat akan diundang dalam pengajian tersebut.

"Ada nanti kecil-kecilan saja. Santri dan tetangga dekat yang nanti akan kami undang," lanjutnya.

Maling Mobil Pedagang Sayur di Depok Diduga Berkelompok dan Sadis Saat Beraksi

Disubsidi, Tarif MRT Jakarta Diusullkan Rp 8.500 per 10 Kilometer

Kritik Gus Nadir

Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir mengkritisi langkah Presiden Jokowi membebaskan Ba'asyir dengan alasan kemanusiaan.

Dosen tetap di fakultas hukum di universitas di Australia ini punya alasan kapan alasan kemanusiaan dipakai untuk membebaskan seorang narapidana dari perspektif hukum.

"Alasan kemanusiaan itu bila rekomendasi medis mengatakan tidak ada lagi harapan hidup, tubuh penuh selang infus, tidak bisa lagi bangun dan bicara," ungkap Gus Nadir.

Ba'asyir sudah mendekam di lapas selama sembilan tahun dari pidana 15 tahun atas kasus terorisme yang dijatuhkan kepadanya.

Yusril Ihza Mahendra yang sekaligus juga sebagai penasihat hukum Jokowi-Ma'ruf Amin, diminta Jokowi untuk mengurus proses pembebasan tersebut.

"Kami jelaskan ke beliau, ini betul-betul pembebasan yang diberikan. Pak Jokowi mengatakan bahwa dibebaskan, jangan ada syarat-syarat yang memberatkan beliau. Jadi, beliau menerima semua itu," ungkap Yusril.

Apakah Ba'asyir layak mendapatkan pembebasan tanpa syarat, Gus Nadir melanjutkan pertimbangan lain kapan alasan kemanusiaan diberikan.

"Kalau masih bisa makan bareng pengacara tanpa disuapin, dan masih lancar bicara, itu bukan alasan kemanusiaan.

Itu skandal jepit!" cuit Gus Nadir.

Komentari pihak Australia

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, telah mengontak Pemerintah Indonesia pada Sabtu (19/1/2019) terkait pembebasan Ba'asyir.

"Posisi Australia tentang masalah ini tidak berubah, kami selalu menyatakan keberatan yang paling dalam," kata Morrison di Melbourne.

Putra ketiga Ba'asyir, Abdul Rohim, mengatakan Scott punya hak berbicara demikian.

Ia pun tidak mau campur tangan terhadap penolakan Scott tersebut.

Hal itu diungkapkannya saat konferensi pers di kantor hukum Mahendradatta, Cipete, Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

"Kita memang tidak akan ikut campur soal penolakan dan sebagainya. Itu hak mereka untuk mereka sikapi tentang bagaimana pembebasan Ustad Abu Bakar Baasyir," kata Rohim.

Meski begitu, ia menyatakan menolak munculnya pemberitaan media asing yang berisi fitnah dengan mengaitkan ayahnya pada serangkaian aksi teror di Indonesia.

"Cuma yang kita tolak adalah apabila kemudian fitnah-fitnah itu kemudian dikembangkan dan disebarkan di negara mereka yang bisa berakibat kepada salah sangka dan buruk sangkanya masyarakat di dunia ini kepada ustaz Abu Bakar Baasyir," jelas Rohim.

Kronologi Lengkap Penemuan Tas Diduga Berisi Sabu di Dalam KRL Tujuan Bogor-Jakarta

Cerita Kasatpel Sosial Kebayoran Lama Tangkap Pak Ogah yang Memelas Tak Ingin Dibawa ke Panti Sosial

Rohim menilai beberapa media di Australia, Amerika, mencoba mengangkat isu pembebasan Ba'asyir dan mengaitkannya dengan isu bom bali dan berbagai macam peristiwa.

Ia menegaskan selama ini ayahnya tidak pernah terbukti memiliki keterkaitan dengan pengeboman di Indonesia.

Apalagi, semua proses hukum terkait hal tersebut juga sudah dilakukan ayahnya.

"Beliau tidak terkait dengan satu pun kasus pembiman di Indonesia dan itu sudah selesai secara hukum di Indonesia," tegas Rohim.

Dirinya merasa aneh pada Australia dan pihak lain yang selama ini menghormati kemanusiaan, perbedaan pandangan, perbedaan agama.

"Kami merasa aneh dengan mereka yang berkomentar miring tentang upaya pembebasan ini. Pembebasan ini karena pertimbangan kemanusiaan," ucap dia.

Seharusnya Australia dan negara lain mengapresiasi pembebasan ayahnya.

"Tidak perlu ditarik-tarik kepada kepentingan politik karena memang tidak ada sama sekali kepentingan politik di situ," kata Rohim.

Ia meminta pihak asing menghormati proses hukum di Indonesia.

Keluarga menyayangkan pihak asing mengangkat lagi isu ini untuk memojokkan Ba'asyir.

"Bagi kami ini adalah fitnah yang dilakukan oleh pihak luar negeri terhadap ustad Abu Bakar Baasyir," kata Rohim. (Tribunnews.com/TribunWow.com/TribunJakarta.com/Tribunjateng.com)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved