Survei AJI Jakarta: Upah Layak Jurnalis Tahun 2019 di Ibu Kota Rp 8,42 Juta

Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta Aulia Afrianshah mengungkapkan besaran tersebut ditetapkan berdasarkan kebutuhan hidup layak di Jakarta.

Survei AJI Jakarta: Upah Layak Jurnalis Tahun 2019 di Ibu Kota Rp 8,42 Juta
SHUTTERSTOCK
ilustrasi uang 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menetapkan besaran upah layak jurnalis pemula untuk tahun 2019, sebesar Rp 8.420.000 setiap bulannya.

Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta Aulia Afrianshah mengungkapkan besaran tersebut ditetapkan berdasarkan kebutuhan hidup layak di Jakarta.

Ia menyebut ada 40 komponen kebutuhan hidup layak jurnalis berdasarkan lima kategori ditambah alokasi tabungan 10 persen.

“AJI Jakarta mendesak perusahaan media mengupah jurnalisnya dengan layak agar jurnalis dapat bekerja dengan independen dan profesional,” ujar Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta Aulia Afrianshah lewat keterangan resminya, Minggu (28/1/2019).

Menurutnya, jurnalis yang menerima upah secara layak dapat bekerja secara profesional dan tidak rentan tergoda menerima amplop yang merusak independesi jurnalis.

Ia menerangkan, gaji yang kecil atau di bawah upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta, berpotensi menyebabkan jurnalis menerima sogokan dari narasumber atau siapapun yang berkaitan dengan pemberitaan.

“Hal ini menyebabkan jurnalis tersebut bias dan tidak menjalankan tugasnya sebagai salah satu pilar dalam demokrasi dan menjaga kepentingan publik. Selain itu, jurnalis merupakan salah satu profesi yang berisiko tinggi sehingga sudah seharusnya memperoleh upah yang layak,” ujar Aulia.

Lebih jauh Aulia menerangkan, berdasarkan Pasal 8 Peraturan Dewan Pers Nomor 4/Peraturan-DP/III/2008 tentang Standar Perusahaan Pers hanya mewajibkan perusahaan pers membayar upah jurnalis dan karyawannya sekurang-kurangnya sesuai dengan UMP minimal 13 kali dalam setahun.

Sekretaris AJI Jakarta Afwan Purwanto meminta dewan pers untuk melakukan perubahan atau aturan standar perusahaan pers. Jurnalis setidaknya, kata dia, digaji minimal 14 kali dalam setahun.

“Kami juga meminta Dewan Pers tidak hanya mendorong jurnalis tersertifikasi, tapi mendorong perusahaan media agar menggaji jurnalisnya secara layak. Jangan sampai jurnalisnya tersertifikasi, tapi gajinya belum layak,” ujar Afwan.

Penulis: Nawir Arsyad Akbar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved