BBM dari Kapal yang Ditangkap Bakamla Bukan Berasal dari Pertamina

Hal tersebut dipastikan Bakamla usai mendapati bahwa tidak ada dokumen resmi jual beli BBM dari Pertamina yang bisa ditunjukkan oleh awak kapal

BBM dari Kapal yang Ditangkap Bakamla Bukan Berasal dari Pertamina
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Kapal tanker MT Segaratama I yang diamankan Bakamla, Jumat (1/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Bahan bakar minyak (BBM) dari kapal tanker MT Segaratama I yang diamankan Bakamla Kamis (31/1/2019) lalu tidak berasal dari Pertamina.

Hal tersebut dipastikan Bakamla usai mendapati bahwa tidak ada dokumen resmi jual beli BBM dari Pertamina yang bisa ditunjukkan oleh awak kapal tersebut.

Saat Bakamla melakukan pengecekan, BBM berupa high speed diesel (HSD) dari MT Segaratama I tengah ditransfer ke kapal nelayan KM Harapan Kita Jaya.

Lantaran tak ada dokumen itulah Bakamla mengamankan kedua kapal dengan dugaan transaksis BBM ilegal.

"Jadi kalo namanya sesuatu yang legal, dalam hitungan jam saja dia sudah bisa menunjukkan. Kita sudah cukup pengalaman dengan hal-hal seperti itu, modus-modus seperti itu," kata Nursyawal, Jumat (1/2/2019).

Dari penyidikan awal, BBM tersebut diketahui dibeli dari kapal-kapal nelayan, bukan dari Pertamina.

2 Kapal yang Diamankan Bakamla Diduga Transaksi BBM Ilegal dengan Modus Kapal Tempel

Adapun awak KM Harapan Kita Jaya hendak membeli 60 ton HSD dari MT Segaratama I.

60 ton HSD rencananya bakal digunakan untuk berlayar dari Muara Baru menuju daerah tangkapan ikan di pesisir Barat Sumatera. Kapal ikan ini telah berlayar selama kurang lebih 6 bulan dengan membawa muatan hasil tangkapan 150 ton ikan cakalang.

Rencananya kapal ikan ini akan mengisi BBM sebanyak 60 ton agar dapat berlayar kembali menangkap ikan selama kurang lebih 6 bulan ke depan.

"Kapal tanker itu telah melakukan transfer BBM ke kapal ikan tersebut sekitar 41 ton. Diperkirakan sisa muatan BBM dikapal tanker tersebut saat ini masih ada sekitar 30 sampai dengan 35 ton," tandas Nursyawal.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved