Tribun Wiki

Peristiwa Penting 4 Februari: Hari Kanker Sedunia, Bagaimana Cara Mendeteksi Kanker?

Di Hari Kanker Sedunia ini, masyarakat diingatkan kembali akan pentingnya menjaga kesehatan agar tak terkena kanker.

Peristiwa Penting 4 Februari: Hari Kanker Sedunia, Bagaimana Cara Mendeteksi Kanker?
ISTIMEWA/Shutterstock
Ilustrasi kanker payudara 

Perempuan berusia 49 tahun itu bertahan hidup dan sembuh dari kanker meski harus kehilangan satu payudaranya. Dituturkannya, pada Maret 2017 dia temukan benjolan keras berbentuk pipih di payudara kanannya. Karena penasaran, dia periksa ke dokter umum.

"Rasanya tidak sakit, tapi terkadang terasa cenut-cenut campur pegal," kata Tuti, warga Desa Jatisawit, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes itu.

Dokter mendiagnosis ada kanker di payudaranya. Namun, untuk mengetahui secara pasti, Tuti diminta untuk membawa biopsi ke dokter patologi anatomi di Semarang.

Pemeriksaan mendalam dilakukan untuk mengetahui pasti dan menentukan langkah selanjutnya. Hasil biopsi menyatakan terdapat jaringan tumor ganas seberat 6 gram dan bersifat kanker stadium 1.

"Ketika diketahui ada kanker di tubuh saya, rasanya seperti dunia berakhir. Bayangannya, saat itu, kalau kena kanker itu pasti meninggal dunia. Beruntung, itu (kanker) cepat diketahui," jelas perempuan yang bekerja sebagai wiraswasta itu.

Ia pun dihadapkan pada dua pilihan apakah mastektomi (pengangkatan seluruh payudara) atau lumpektomi (pengangkatan jaringan kanker). Menurutnya, karena kanker yang dimilikinya ganas dan agresif, serta dikhawatirkan menyebar cepat, sehingga ia ingin segera mengangkat payudaranya untuk memaksimalkan peluang menyingkirkan kanker dari tubuhnya.

Perasaan gugup melandanya sebelum operasi di rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah onkologi di Purwokerto pada April 2017. Dia sedih dan banyak pikiran. "Masa perempuan payudaranya satu?" gerutunya saat itu. Beberapa hari setelah ada bagian tubuhnya 'dimutilasi', ia merasa ada yang kurang sebagai seorang perempuan. Ini menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.

Ia bahkan sempat depresi. Mau tidak mau, dia harus siap kehilangan payudaranya. Ia lebih takut kehilangan hidup dan meninggalkan tiga anaknya. "Saya harus tegar dan kuat. Saya harus menerima apapun kondisinya. Intinya saya ingin hidup. Masih banyak yang harus dilakukan di dunia ini," ujarnya.

Usai mastektomi dilakukan, bekas luka berukuran 5 inci di dadanya belum kering, cerita kanker belum usai. Agar jaringan kanker hilang secara tuntas dan menyeluruh, dia harus melakukan kemoterapi.

Selama kemoterapi, ia kehilangan rambut, kuku, alis dan bulu mata. Menurutnya, ia merasa perempuan paling jelek karena harus kehilangan satu payudara dan seluruh rambut atau bulu di tubuhnya. "Saya pakai kerudung, sehingga kepala plontos tidak terlihat, alis mata saya lukis tebal agar saat keluar rumah terlihat tidak terjadi apa-apa dengan saya," tuturnya.

Kemoterapi dilakukan enam kali setiap 21 hari. Ia merasa beruntung ketika dampak kemoterapi, semisal mual hingga muntah dan sebagainya tidak dirasakan. Saat ini, dia masih harus kontrol ke dokter untuk memastikan tidak ada sisa sel kanker yang ketinggalan di tubuhnya. Obat-obat yang didapat dari dokter telah dikonsumsi untuk mengatasi jaringan jahat itu.

Ia merasa beruntung selamat dari penyakit mematikan tersebut. Tuti mengatakan tidak tahu apa yang terjadi padanya jika gejala kanker terlambat diketahui. Dia tidak tahu secara pasti penyebab kanker yang diidapnya. Secara genetika, ada dua bibinya yang juga pernah mengidap kanker payudara.

Namun, berdasarkan penuturan dokter yang ia terima, faktor genetika hanya menyumbang lima persen penyebab kanker.

Ia menilai dari pola hidup atau pola makan atau masakan yang selama ini dikonsumsi. "Saya rasa dari MSG (penyedap rasa) yang dicampur di makanan. Makanya, saat ini saya rajin makan buah dan sayur-sayuran juga makanan yang bebas MSG," imbuhnya. Tuti menitip pesan untuk pengidap kanker agar terus bersemangat dalam menjalani hidup dan ikhlas apa yang dialami. Jangan mudah menyerah dan cemas berlebihan saat 'dihakimi' dokter mengidap kanker.

Komika Gebi Ramadhan Meninggal Dunia Setelah Berjuang Lawan Kanker Hati

Simak, Ini Sederet Tips Turunkan Risiko Kanker

Makan Sambil Beraktivitas Bisa Picu Kanker Lambung, Simak Penyebab Lainnya

Varda Jalani 12 Kali Kemoterapi

Perasaan kaget bercampur sedih dirasakan Bivarda Yulia Titisari (48) saat dokter memvonis dirinya menderita kanker payudara. Bahkan penyakit tersebut sudah masuk stadium tiga.

Awalnya dia merasakan sakit di bagian payudara saat mengangkat tangan. Kemudian muncul benjolan dan setelah diperiksakan ke dokter bulan Juli 2015 ternyata ia menderita kanker payudara.

Keputusan cepat langsung diambil Varda dengan memilih melalukan tindakan operasi serta kemoterapi. Karena dirinya mendapat penjelasan dari dokter bahwa, penyakit ini harus segera diambil tindakan cepat karena jika dibiarkan terlalu lama maka akan makin parah. Ia sangat berterima kasih dengan adanya BPJS. Sebab seluruh biaya pengobatan mendapat bantuan.

Setelah selesai menjalani operasi tahap selanjutnya adalah kemoterapi memasukkan cairan melalui selang infus. Total sudah 12 kali kemoterapi yang dilakukannya untuk bisa sembuh, terkhir kemoterapi Desember 2015.

Kini tahap pengobatan masih dijalaninya. Ia rutin memeriksakan diri ke dokter. Selain itu setiap hari tanpa putus meminum obat yang dianjurkan dokter dalam lima tahun sampai pertengahan 2020 nanti untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan ulang apakah harus menjalani pengobatan lanjutan.

Selain itu, Varda juga aktif di komunitas Cancer Information and Support Center (CISC). Hal tersebut diakuinya menambah semangatnya untuk bisa sembuh sebab di kelompok tersebut dirinya memiliki banyak teman yang senasib, bisa saling berbagi pengalaman dan media edukasi.

Saat ini jumlah anggota CISC mencapai 400an orang. Mereka berasal dari para penderita kanker, relawan dan anggota keluarga penderita kanker. Berbagai kegiatan rutin sering diadakan seperti gathering dan seminar dengan mendatangkan dokter ahli.

Seorang relawan di CISC, Evanaimatul mengungkapkan alasan dirinya ikut bergabung ke komunitas ini karena ingin membantu sesama. Mahasiswa lulusan Pendidikan Bahasa Prancis Unnes ini awalnya diajak teman yang lebih dulu bergabung. Kemudian ketagihan dan sampai sekarang masih aktif di komunitas tersebut meski dirinya bukan penderita kanker atau tidak ada keluarga yang memiliki riwayat kanker.

Di lingkungannya, mereka kerap mengubah kata pengobatan dengan bahasa yang lebih halus dan tidak menyeramkan seperti menggantinya dengan istilah-istilah pendidikan di kampus.

“Pergi ke rumah sakit diganti pergi ke kampus. Konsultasi dengan dokter disebut kencan dengan dokter. Kuliahnya bagaimana? harus remidi atau enggak. Itu artinya hasil program pengobatannya bagaimana apakah perlu ada yang diulang, jadi sebisa mungkin dibuat halus,” imbuhnya.

Eva bercerita, pengalamannya yang paling berkesan selama bergabung di CISC adalah menemani penderita kanker payudara selama tujuh hari penuh di rumah sakit. Ia membantu merawat seperti anggota keluarganya mulai dari makan dan kebutuhan lain. (TribunJakarta.com/TribunJateng.com/Berbagai sumber)

Penulis: Erlina Fury Santika
Editor: Rr Dewi Kartika H
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved