Pemutihan Utang Debitur Korban Bencana untuk Merawat Kemanusiaan

"Sudah sangat wajar jika pemberian fasilitas penghapusan utang debitur dilakukan. Paling tidak atas nama kemanusiaan," kata Ali.

Pemutihan Utang Debitur Korban Bencana untuk Merawat Kemanusiaan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Suasana Masjid Baiturrahman dan Palu Grand Mall yang hancur pascagempa dan tsunami di Kawasan Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). BNPB menyatakan kerugian akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu mencapai puluhan triliun rupiah, hal tersebut berdasarkan dampak bencana dan cakupan kerusakan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Fraksi NasDem Ahmad HM Ali mengatakan, diskursus publik terkait dengan utang debitur korban terdampak langsung bencana harusnya sudah lebih maju.

Menurutnya pedebatan, seharusnya tak lagi berkutat pada apakah kebijakan tersebut dapat dilakukan atau tidak.

Apalagi bencana Palu, Donggala, Sigi dan Parimo (Padagimo) bukan hanya gempa, tetapi sekaligus tsunami dan likuifaksi, berikut tingkat kerusakan yang terbilang parah dan jumlah korban yang besar.

"Sudah sangat wajar jika pemberian fasilitas penghapusan utang debitur dilakukan. Paling tidak atas nama kemanusiaan. Saya meyakini, kebijakan dibuat untuk merawat kemanusiaan," kata  anggota Komisi VII DPR RI dari Sulawesi Tengah ini dalam keterangan yang diterima, Selasa (5/2/2019).

Ali mengatakan, dampak bencana Padagimo ak sekadar mempertimbangkan korban jiwa, tetapi juga kerusakan ekonomi, khususnya asset ekonomi yang penting untuk kelanjutan usaha.

Belum lagi ditambah dengan korban jiwa yang banyak diantaranya merupakan tulang punggung ekonomi keluarga.

Gempa Donggala Tahun 2018, Ingatkan Kakek Ini Pada Kejadian 50 Tahun Silam  

Berdasarkan hal tersebut, selayaknya perdebatan publik lebih ditujukan pada skema dan payung hukum untuk memberikan perlakuan khusus kepada korban bencana terdampak langsung agar selaras dengan aturan perundangan yang berlaku.

Secara hukum, langkah untuk penghapusan utang debitur korban bencana sejatinya sangat dimungkingkan. Bencana Padagimo telah memenuhi unsur keadaan memaksa (force majeur) atau overmatch.

Setidaknya ada tiga unsur dari keadaan memaksa itu kata Ali.

Pertama, tidak dipenuhinya prestasi akibat peristiwa musnah atau binasanya benda yang menjadi objek perikatan.

Halaman
123
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved