Tribun Wiki
Sejarah di Balik 7 Makanan Khas Jakarta, Kerak Telor Ternyata Hasil 'Iseng' Anak Menteng?
Makanan tradisional Jakarta tak lepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Berikut TribunJakarta.com himpun 7 makanan khas Ibu Kota.
Penulis: Erlina Fury Santika | Editor: Rr Dewi Kartika H
Soto ini kuat dengan ciri khasnya yang dari santan.
Isinya ada daging sapi, tomat, kentang, terkadang disertakan emping.
Soto Betawi sendiri pertama kali muncul sekira pada 1977-1978 dan diperkenalkan pertama kali oleh Lie Boen Po di THR Lokasari.
Banyak penjual soto pada tahun-tahun tersebut, biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan lainnya.
Istilah soto Betawi justru mulai menyebar menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekira pada 1991.
3. Soto Tangkar
Tak berbeda jauh dengan Soto Betawi, Soto Tangkar juga terbuat dari kuah santan. Pembedanya adalah isinya yang berasal dari daging sapi dan jeroan.
Meminjam observasi dari Erwin LT dalam bukunya Peta 100 Tempat Makan Makanan Khas Betawi di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang, disebutkan bahwa makanan ini sudah lahir dari zaman penjajahan Belanda.
Pada saat itu, lanjut Erwin, orang Betawi hanya mampu membeli iga sapi yang sedikit dagingnya (tangkar). Kemudian, orang Betawi menyulapnya menjadi soto yang enak.
Jika ingin mencicipinya, kamu bisa kunjungi Soto Tangkar legendaris yang berada di Jl. Tanah Tinggi III No.54, Jakarta Pusat.
Konon kedai tersebut sudah berdiri sejak 1950-an dan sudah dikelola generasi keempat.
4. Sayur Babanci
Surat kabar Harian Kompas dalam Sayur Babanci, Masakan Kuno yang Terpinggirkan pernah menyebut, sayur ini merupakan salah satu kuliner ikonik khas Betawi yang kini mulai langka.
Kelangkaan ini, lanjutnya, disebabkan karena bahan dan rempah-rempah untuk membuat sayur ini sudah sulit ditemukan di Jakarta.
Dikabarkan, nama sayur ini diperoleh karena 'posisi' yang tidak jelas: bukan gulai, kare, ataupun soto.