Tribun Wiki

Sejarah di Balik 7 Makanan Khas Jakarta, Kerak Telor Ternyata Hasil 'Iseng' Anak Menteng?

Makanan tradisional Jakarta tak lepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Berikut TribunJakarta.com himpun 7 makanan khas Ibu Kota.

Penulis: Erlina Fury Santika | Editor: Rr Dewi Kartika H
mahligai-indonesia.com/TribunTravel.com
Kerak telor, makanan khas Jakarta yang ternyata dibuat dari hasil keisengan anak-anak Menteng. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, termasuk olahan kulinernya.

Di Jakarta, terdapat beragam makanan khas atau tradisional dengan rasa yang unik.

Pembuatan makanan tradisional di Jakarta tentu tak lepas dari sejarah yang melatarbelakanginya.

Kalau kamu ngaku anak Jakarta, deretan makanan ini harusnya sudah pernah kamu santap.

Apa saja makanan tradisional Jakarta? Berikut TribunJakarta.com rangkum dari berbagai sumber.

1. Kerak telor

Makanan ini wajib ditempatkan nomor satu sebagai makanan khas Jakarta.

Kerak telor memang begitu tersohor dan kerap ditemui dalam 'hajatan' ulang tahun DKI Jakarta, Pekan Raya Jakarta.

Konon, makanan ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Berdasarkan informasi yang beredar, makanan ini ada karena hasil 'keisengan' dari sekawanan orang Betawi yang tinggal di daerah Menteng.

Keisengan itu dimulai tatkala sekawanan tersebut memanfaatkan pohon kelapa yang tumbuh subur memenuhi wilayah Batavia, sebutan Jakarta tempo dulu.

Namun, makanan ini baru terkenal pada 1970-an. Penjualan kerak telor secara masif dilakukan di Tugu Monas.

Kerak telor sendiri terbuat dari beras ketan putih telur ayam atau bebek, ebim (udang kecil) dan bawang merah goreng yang nantinya ditambah bumbu halus seperti cabai merah, kencur, jahe, garam, gula pasir, merica butiran, dan suiran kelapa yang sudah di sangrai.

Cara memasaknya sangat unik, yakni dipanaskan di atas tungku arang.

2. Soto Betawi

Soto ini kuat dengan ciri khasnya yang dari santan.

Isinya ada daging sapi, tomat, kentang, terkadang disertakan emping.

Soto Betawi sendiri pertama kali muncul sekira pada 1977-1978 dan diperkenalkan pertama kali oleh Lie Boen Po di THR Lokasari.

Banyak penjual soto pada tahun-tahun tersebut, biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan lainnya.

Istilah soto Betawi justru mulai menyebar menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekira pada 1991.

3. Soto Tangkar

Tak berbeda jauh dengan Soto Betawi, Soto Tangkar juga terbuat dari kuah santan. Pembedanya adalah isinya yang berasal dari daging sapi dan jeroan.

Meminjam observasi dari Erwin LT dalam bukunya Peta 100 Tempat Makan Makanan Khas Betawi di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang, disebutkan bahwa makanan ini sudah lahir dari zaman penjajahan Belanda.

Pada saat itu, lanjut Erwin, orang Betawi hanya mampu membeli iga sapi yang sedikit dagingnya (tangkar). Kemudian, orang Betawi menyulapnya menjadi soto yang enak.

Jika ingin mencicipinya, kamu bisa kunjungi Soto Tangkar legendaris yang berada di Jl. Tanah Tinggi III No.54, Jakarta Pusat.

Konon kedai tersebut sudah berdiri sejak 1950-an dan sudah dikelola generasi keempat.

4. Sayur Babanci

Surat kabar Harian Kompas dalam Sayur Babanci, Masakan Kuno yang Terpinggirkan pernah menyebut, sayur ini merupakan salah satu kuliner ikonik khas Betawi yang kini mulai langka.

Kelangkaan ini, lanjutnya, disebabkan karena bahan dan rempah-rempah untuk membuat sayur ini sudah sulit ditemukan di Jakarta.

Dikabarkan, nama sayur ini diperoleh karena 'posisi' yang tidak jelas: bukan gulai, kare, ataupun soto.

Bahkan beberapa sumber menyebut, makanan ini tidak bisa dikategorikan sebagai sayur karena tidak ada campuran sayur di dalamnya.

Warga Betawi biasanya menyajikan makanan ini hanya pada hari besar keagamaan, seperti buka puasa, Idul Fitri atau Idul Adha. Namun sangat sedikit keluarga yang menyajikan makanan ini.

Sayur ini terdiri dari bahan yang langka, seperti, kedaung, botor, tai angin, lempuyang, temu mangga, temu kunci, bangle.

5. Laksa Betawi

Ternyata tak hanya di Tangerang, Jakarta pun punya makanan khas ini.

Laksa sendiri, menurut Erwin LT, berasal dari daerah Cibinong yang kemudian merambah ke Jakarta dengan sebutan Laksa Betawi.

Konon, pengusaha Laksa Betawi biasanya orang Cina Betawi.

Laksa sendiri merupakan jenis makanan sepinggan yang berkuah.

Laksa Betawi terdiri dari bihun, telur, perkedel, daun kemangi, dan daun kucai. Kuliner yang mendapat pengaruh dari Cina ini memiliki citarasa yang gurih dan manis.

Jika ingin mencicipinya, kamu bisa kunjungi Laksa Betawi Asirot di Jl Asirot no.2 Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Kedai tersebut banyak direkomendasikan oleh para pecinta kuliner.

6. Nasi Ulam

Nasi ulam merupakan makanan khas Betawi yang juga mendapat pengaruh dari budaya kuliner Tiongkok. Begitulah Habsari mengisahkannya dalam buku Info Boga Jakarta.

Nasi ulam biasanya memakai nasi pera yang disiram dengan semur kentang/semur tahu/semur telur.

Nasi ulam juga ditambah dengan cumi asin goreng, bihun goreng, telur dadar iris, dan perkedel kentang.

Namun berdasarkan info yang beredar, terdapat dua 'mahzab' nasi ulam.

Pertama, nasi ulam berkuah (basah) yang berasal dari Jakarta Utara dan Pusat, kedua nasi ulam kering (tidak berkuah) yang ditemukan di Jakarta Selatan.

Nasi ulam bertambah nikmat dengan tambahan daun kemangi, sambal, bawang goreng, dan taburan kacang tanah tumbuk.

YouTuber Daddy Kuliner merekomendasikan nasi ulam Betawi H. Nanan di Glodok, tepatnya depan gang petak 9, sebagai nasi ulam yang wajib dicicipi.

7. Pindang Bandeng

Makanan ini punya ciri khas kuah yang sedikit asam dan cukup segar.

Selain itu, cabe rawit yang dimasak bisa membuat selera makan semakin membuncah.

Menurut sejarahnya dari berbagai sumber, masakan ini tak lepas dari pengaruh Tiongkok.

Justru pindang bandeng ini merupakan makanan yang wajib dihadirkan dalam perayaan tahun baru Imlek.

Sebab, makanan ini punya filosofi sendiri, yakni sebagai lambang kemakmuran dan harapan agar memperoleh rezeki di tahun yang baru.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved