Ramai Pengamen Barongsai di Glodok saat Imlek, Pendapatan Hanya Cukup untuk Makan

"Kalau ngamen mah memang sudah setiap hari, tapi kalau tahun baru Imlek gini makin ramai, makin banyak," kata Lia.

Penulis: Novian Ardiansyah | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Novian Ardiansyah
Pengamen barongsai di Glodok, Jakarta Barat 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Novian Ardiansyah

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMANSARI - "Kalau untungnya nggak seberapa paling cukup untuk makan sehari-hari saja bareng yang lain," ujar Lia di Jalan Pancoran, Glodok.

Begitu lah kira-kita jawaban dari Lia seorang wanita yang saban hari berkeliling mengamen menggunakan barongsai di Kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Lia berujar, sebenarnya mengamen barongsai di daerah pecinan tersebut sudah ada setiap hari.

Namun karena Februari ini identik dengan perayan Imlek, maka pengamen barongsai semakin bertambah jumlahnya sehingga mudah ditemui saat berseliweran di Glodok.

"Kalau ngamen mah memang sudah setiap hari, tapi kalau tahun baru Imlek gini makin ramai, makin banyak," kata Lia.

Mereka yang berkostum barongsai, kata Lia, ada yang mengamen dengan cara berkelompok, ada juga yang sendirian.

Tetapi di antara mereka semua yang mengamen barongsai mempunyai satu persamaan yaitu sama-sama menyiapkan selembar angpao.

Angpao yang nantinya ditunjukan untuk warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Glodok. Dengan harapan angpao tersebut dikembalikan oleh waraga tentu dengan disisi uang terlebih dahulu.

Sambil mengucapkan kata permisi dan menawarkan angpao, para pengamen juga turut serta mendoakan keselamatan dan kesehatan warga dalam menyambut tahun baru Imlek.

"Semoga sehat, rezekinya lancar di tahun baru ini. Angpaonya.., kamsia," ucap mereka dengan sedikit membuka kostum barongsai.

Adapun kostum barongsai yang mereka kenakan tersebut sudah tampak lusuh lantaran sering digunakan. Warnanya juga sudah mulai memudar, tidak lagi terlihat seperti kostum barongsai pada umumnya yang bewarna mencolok.

Lia mengatakan, kostum barongsai yang telah kusam tersebut memang sengaja dipilihnya karena harga sewanya yang lebih terjangkau.

Memang ternyata kostum tersebut bukan milik pribadi tiap pengamen. Melainkan mereka hanya menyewa dengan sejumlah uang yang harus disetor per harinya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved