Guru Diduga Aniaya Anak Berkebutuhan Khusus di Bekasi: Bantahan Hingga Ayah Korban Pilih Jalur Hukum

Siswa sekolah dasar (SD) Al-Fajri Bekasi berinisial JMH (11), diduga jadi korban penganiayaan oleh oknum gurunya sendiri. Ini kronologinya.

Guru Diduga Aniaya Anak Berkebutuhan Khusus di Bekasi: Bantahan Hingga Ayah Korban Pilih Jalur Hukum
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BAHTIAR
SD Al-Fajri di Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat Kota Bekasi, tempat JMH sekolah. 

Mnurut dia, JMH adalah siswa yang cukup baik di dalam kelas meski dia adalah anak berkebutuhan khusus.

"Dia (JMH) cukup baik, ini ternasuk anak yang ABK (anak berkebutuhan khusus), nah kalau Fania (siswa ABK lain) ini intens dengan saya, karena dia (JMH), bisa membaca dan menulis berbeda dengan ABK lain di kelas saya, yang harus saya dampingi," ungkapnya.

Adapun pada saat, Kamis 7 Februari 2019, HM menjelaskan, hari itu tidak ada kesalahan yang dilakukan siswanya.

"Waktu itu ada pelajaran tentang sudut, saya presentasi ke siswa soal sudut setelah itu saya minta beberap siswa maju mempresentasikan apa yang saya lakukan, termasuk JMH," jelas dia.

4. Ayah Korban Selesaikan Lewat Jalur Hukum

Tulisan JMH anak berkebutuhan khusus yang diduga korban penganiayaan oknum guru saat diminta menuliskan hal-hal yang menyakitkan fisik oleh pihak sekolah.
Tulisan JMH anak berkebutuhan khusus yang diduga korban penganiayaan oknum guru saat diminta menuliskan hal-hal yang menyakitkan fisik oleh pihak sekolah. (TribunJakarta/Yusuf Bachtiar)

Muhammad Sugih (43), ayah korban tetap memilih jalur hukum untuk menyelesaikan kasus dugaan yang menimpa anaknya.

pada Jumat, (8/2), ia mendatangi sekolah untuk mengklarifikasi perihal pengakuan anaknya. S

aat itu, Sugih bertemu Kepala SD Al-Fajri, Siti Sjahrianti.

Kedatangannya ke sekolah bertujuan untuk mengklarifikasi bahwa apakah anaknya selama ini mengalami masalah dengan wali kelasnya.

"Pada saat itu, pihak sekolah bilang tidak ada sesuatu yang terjadi apa-apa di sekolah, cuma kalau kata bu Ria, pak HM, bicara agak keras sama anak saya menurut teman-temannya, nah dari situ saya mulai kepikir sama pengakuan anak saya, agak nyambung," ungkap Sugih.

Sugih juga sempat menunjukkan rekaman pada saat ia menanyakan anaknya tentang luka lebam yang diderita.

Ia selanjutnya meminta agar pihak sekolah dan guru yang bersangkutan mengklarifikasi apakah benar pengakuan anaknya terkait lula lebam yang diderita.

"Abis itu, saya minta sama pihak sekolah 1x24 jam untuk memberikan klarifikasi atas pengakuan dan luka lebam yang diderita anak saya," ujarnya.

Namun itikad baik untuk menyelesaikan masalah dengan meminta pihak sekolah mengklarifikasi dan terbuka atas apa yang diderita anaknya justru tidak digubris.

Dugaan Penganiayaan Anak Berkebutuhan Khusus: Sekolah Tak Menggubris, Orang Tua Lapor Polisi

Wali Kelas Bantah Aniaya Muridnya yang Berkebutuhan Khusus di Bekasi: Itu Fitnah yang Keji

Diduga Menganiaya Anak Berkebutuhan Khusus, Wali Kelas Sebut Tuduhan Itu Fitnah

Tak Ada Itikad Baik Sekolah Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus yang Diduga Dianiaya Guru Lapor Polisi

Akhirnya pada, Sabtu, (9/2) malam, ia melaporkan dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum guru SD Al-Fajri ke Polres Metro Bekasi Kota.

"Malam itu juga saya lapor dan buat visum di RSUD Kota Bekasi atas dugaan tindakan kekerasan ke anak," jelas dia.

Adapun setelah laporan tersebut, pihak sekolah justru mengundang Sugih, pada Senin, (11/2).

Namun, ia enggan memenuhi undangan tersebut lantaran merasa, pihak sekolah dianggap memandang rendah masalah yang belakangan ia coba mintai keterangan.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved