Putra, Bocah Kelas 3 SD Jualan Cilok: Jago Berhitung, Dapat Banyak Simpati, dan Kakak Sudah Menikah

"Kalau berhitung dia bisa, pintar dia. Mungkin karena memang sudah biasa jualan juga ya," kata guru kelas

Putra, Bocah Kelas 3 SD Jualan Cilok: Jago Berhitung, Dapat Banyak Simpati, dan Kakak Sudah Menikah
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Muhammad Saputra di sekolahnya di SD Jurang Mangu Timur 01, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu (13/2/2019). 

Namun di balik senyumnya, ia menanggung beban yang luar biasa, untuk menghidupi dua adiknya yang masih kecil, Renaldi Setiawan (7) dan si bungsu Arsyad Nurardiansyah yang masih berusia 10 bulan.

Sudah dua bulan Putra merelakan waktu bermainnya berjualan cilok tusuk menggunakan sepeda selepas pulang sekolah, hingga larut malam demi mencari uang untuk kehidupan sehari-hari.

Ayahnya, Rawin, meninggal karena sakit paru-paru sekira satu tahun lalu. Sedangkan ibunya, Siti Nurhayati harus tutup usia ketika melahirkan Arsyad.

Sementara Putra berkeliling berjualan cilok mencari rupiah, sang kakak, Siti Julaiha (17) mengurus si bungsu di rumah.

Julaiha sudah menikah, dan suaminya bekerja sebagai sopir angkot. Mereka semua tinggal di rumah semi permanen berukuran sekira 2x6 meter di kawasan pengepul rongsok di bilangan RT 02 RW 02 Jurang Mangu Timur, Pondok Aren, Tangsel.

Ditemui di sekolahnya, Putra terlihat sedang berjualan cilok saat jam istirahat di koridor sekolah.

Di antara siswa lainnya yang mengenakan seragam Pramuka, Putra terlihat mencolok dengan seragam putih merah yang berbeda sendiri.

Muhammad Saputra Bocah Yatim Piatu Penjual Cilok, Banyak Dapat Perhatian Masyarakat

Adi Saputra, Pemuda yang Ngamuk Hancurkan Motor Saat Ditilang Polisi Diperiksa Psikolog Hari Ini

Video Viral Sosok Putra, Siswa SD Yatim Piatu, Berjualan Cilok Hingga Larut Malam Demi Susu Adik

"Jualan cilok goreng," ujar Putra sedikit malu.

Saat ditanya uang hasil jualannya untuk apa, dengan polos ia menyebut untuk membeli susu adik bungsunya.

"Beli susu ade," ujarnya.

Ia tidak merasa letih atau mengeluh walaupun harus keliling Bintaro sampai tengah malam.

"Sampai jam 12 malam," ujarnya. (TribunJakarta)

Penulis: erik sinaga
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved