Kebijakan Khusus Sekolah Pada Putra Penjual Cilok Agar Tidak Jarang Masuk

"Pihak sekolah menduga Putra sudah jualan sejak pagi, lalu keterusan atau kelelahan, jadi absen saat waktunya sekolah," terang Pati

Kebijakan Khusus Sekolah Pada Putra Penjual Cilok Agar Tidak Jarang Masuk
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Muhammad Saputra di sekolahnya di SD Jurang Mangu Timur 01, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu (13/2/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG- SDN Jurang Mangu Timur 01, Pondok Aren, Tangerang Selatan yang jadi tempat Muhammad Putra (12) bersekolah menerapkan kebijakan khusus kepada bocah penjual cilok yang viral di media sosial itu, beberapa waktu lalu. 

Kebijakan yang dimaksud adalah memperbolehkan Muhammad Saputra menjual cilok di lingkungan sekolah.

Sekolah memperbolehkan hal tersebut supaya Muhammad Saputra tetap semangat bersekolah sembari memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai anak yatim piatu. 

"Dulu sebelum memperbolehkan Putra berjualan di sekolah, dia jarang masuk. Seminggu bisa masuk hanya tiga hari," ujar Wali Kelas Putra, Pati Fitriyani kepada Kompas.com. Kamis (14/2/2019). 

Pihak sekolah menduga Muhammad Saputra kerap absen sekolah karena di pagi hari ia berjualan cilok terlebih dahulu. Lalu saat siang hari ketika mulai sekolah, ia keterusan berjualan.

"Pihak sekolah menduga Putra sudah jualan sejak pagi, lalu keterusan atau kelelahan, jadi absen saat waktunya sekolah," terang Pati.Saat ini, setelah diperbolehkan untuk berjualan di sekolah, Pati menilai semangat belajar Putra meningkat.

"Pihak sekolah memahami peristiwa yang menimpa Putra, maka kami mencoba untuk membantu, salah satunya adalah memperbolehkan ia berjualan di sekolah. Para guru dan temannya kemudian juga sering ikut memborong dagangannya," kata Pati.

Para guru SDN Jurang Mangu Timur 01 tidak ingin Putra kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.

Untuk itu, pihaknya juga membantu semaksimal mungkin agar Putra tetap bisa mendapatkan pendidikan di tengah desakannya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

"Dia itu baik, semua guru disapa, dengan anak lain juga supel. Suatu kali ia pernah memberikan uang Rp 10.000 kepada pemulung yang mengais di tempat sampah sekolah. Anak sebaik ini, dia juga harus didukung pendidikannya," tutur Pati.

Halaman
12
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved