Wamenlu RI Sebut Cuma Indonesia yang Libur Nasional Setiap Peringati Hari Raya Agama

arena itu kami sangat menghargai dan meyambut kegiatan seperti ini. Seperti yang kita maklumi bahwa negara membuktikan kebebasan," ujarnya.

Wamenlu RI Sebut Cuma Indonesia yang Libur Nasional Setiap Peringati Hari Raya Agama
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat menghadiri perayaan Imlek di Sekolah Harapan Bangsa, Sabtu (16/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, bahasa dan agama dan memiliki rasa toleransi yang tinggi terutama masalah agama dan kepercayaan.

Hal tersebut diucapkan Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat menghadiri perayaan Imlek 2570 di Sekolah Harapan Bangsa.

Dalam perayaan Imlek yang berlangsung meriah dari pertujukan barongsai, tarian, nyanyian ala Cina yang seluruhnya dari siswa-siswi Sekolah Harapan Bangsa, Fachir merasa keberagaman merupakan pemersatu bangsa.

Sebab, dalam perayaan imlek yang dihadiri oleh kedutaan besar Tiongkok di Indonesia Zhou Bin tersebut dibawakan dalam tiga bahasa yakni Indonesia, Inggris dan Mandarin.

"Karena itu kami sangat menghargai dan meyambut kegiatan seperti ini. Seperti yang kita maklumi bahwa negara membuktikan kebebasan, negara juga memfasilitasi bahkan menghormati perbedaan dengan memberikan hari libur untuk semua agama," kata Fachir, Sabtu (16/2/2019).

Presiden Minta Uninstall Bukalapak Dihentikan, Tagar #JokowiOrangnyaBaik Jadi Trending di Twitter

Ia pun meyakinkan bahwa Indonesia yang memberikan hari libur memperingati semua hari raya setiap agama yang ada di Indonesia.

Sebab, di Indonesia terdapat 17.503 pulau dengan ratusan kebudayaan dan belasan bahasa terkandung di dalamnya.

Maka dari itu ia berharap dari kegiatan yang berunsur dari beberapa perbedaan seperti di Sekolah Harapan Bangsa dapat menjadi contoh dan mengikis perpecahan.

"Harus dimajukan terutama generasi muda. Karena bisa jadi karena teknologi informasi dan sebagainya, kita sangat terpengaruh dengan perbedaan itu tapi, justru saya melihat perbedaan adalah sebuah kekayaan dan harus perjuangan kebersamaan," kata Fachir.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved