Breaking News:

Wali Kota Bekasi Sebut PLTSa Sumur Batu Masih Ada yang Harus Disempurnakan

PLTSa Sumur Batu dikembangkan Pemkot Bekasi dengan bekerja sama oleh PT Nusa Wijaya Abadi (NWA) sejak 2016 silam.

Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Erlina Fury Santika
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
PLTSa Sumur Batu yang dikembangkan Pemkot Bekasi bersama PT NWA, di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu Kota Bekasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyebutkan, masih ada yang harus disempurnakan dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Pepen sapaan akrabnya menjelaskan, pihaknya sejauh ini masih melakukan evaluasi terhadap operasional PLTSa Sumur Batu yang telah diuji coba pada, 5-6 Februari 2019 lalu. Sebuah kerja sama kata dia perlu diperhatikan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi semua pihak.

"Nah kan namanya kerja sama ada hak dan kewajiban, kita melihat masih ada beberapa yang perlu disempurnakan," kata Rahmat, Senin, (18/2/2019).

PLTSa Sumur Batu dikembangkan Pemkot Bekasi dengan bekerja sama oleh PT Nusa Wijaya Abadi (NWA). Kerja sama tersebut sudah berjalan sejak 2016 silam.

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan, PT NWA disebut-sebut telah mampu mengolah sebanyak 3,3 ton sampah per jam atau lebih dari target yang diharpakan sebesar 2,3 ton per jam.

Untuk mengolah sampah menjadi listrik, PT NWA terlebih dahulu mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) untuk selanjutnya dibakar menggunakan teknologi Circulating Heat Combustion Boiler-system (CHCB).

Meski uji coba PLTSa sudah sangat menjanjikan, PT NWA belum dapat mengoperasikan dan memproduksi listrik secara rutin. Sebab, pihaknya dalam hal ini masih mengupayakan kontrak kerja sama berupa power purchase agreement (PPA) dengan PLN.

Adapun prosedur pembuatan PPA perlu rekomendasi dari Wali Kota Bekasi yang selanjutnya akan diteruskan ke Kementerian ESDM. Setelah itu, rekomendasi akan diteruskan ke PLN untuk kemudian dituangkan dalam kontrak kerja sama pembelian listrik.

"Hanya kendalanya saat ini adalah kesiapan harga jual dengan PLN itu belum bisa ketemu. Sehingga kita sudah 2 tahun nganggur (PLTSa), memang tidak banyak, kapasitas sehari itukan 1,5 megawatt, tapi nanti totalnya ada 9 megawatt (yang dijual ke PLN)," ungkap Rahmat.

Adapun pengembangan PLTSa sudah dituangkan ke dalam Perpres Nomor 35 Tahun 2018. Dimana dalam perpres tersebut, hanya ada 12 Kota dan Satu Provinsi di Indonesia yang dimandatkan oleh presiden untuk mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah yang ramah lingkungan.

Presiden Direktur, PT NWA, Tenno Sujarwanto mengatakan, dalam perpres itu, pihak pengembang PLTSa dalam hal ini tidak dapat menjual hasil produksi listrik. Pengembang diamanatkan untuk bekerja sama dengan PLN sebagai penyumplai listrik untuk warga.

"Sesuai Perpres nomor 35 Tahun 2018, bahwa yang membeli listrik hasil pengembangan PLTSa ini adalah PLN, jadi kalau PPA itu belum ada, kita belum bisa beroperasi secara rutin karena hasil produksi listriknya belum bisa dijual," jelas dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved