Breaking News:

Cegah Pelecehan Seksual di Sekolah, Calon Guru di Depok Wajib Jalani Psikotes

Kasus pencabulan 13 murid laki-laki di satu SDN unggulan Kota Depok oleh satu oknum guru honorer membuat Disdik Kota Depok berhati-hati.

alghad
Ilustrasi Pelecehan Anak. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Kasus pencabulan 13 murid laki-laki di satu SDN unggulan Kota Depok oleh satu oknum guru honorer pertengahan tahun lalu membuat Disdik Kota Depok berhati-hati dalam merekomendasikan guru.

 Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Mohamad Thamrin mengatakan pihaknya kini mengharuskan seluruh calon guru honorer tak hanya diuji kemampuannya, tapi juga menjalani psikotes.

"Untuk tenaga pendidik honor sekarang kami lakukan psikotes, jadi langkah kami jangan sampai merekrut guru honor bermasalah lagi. Makannya kita lakukan psikotes juga," kata Thamrin, Minggu (24/2/2019).

Hasil psikotes tersebut bakal jadi penentu bagi Disdik Depok dalam merekomendasikan guru honorer kepada Kepala Sekolah yang juga berwenang mengangkat guru honorer.

Hal ini berbeda dengan persyaratan bagi guru honorer yang sebelumnya hanya dinilai berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampuannya sebagai pengajar.

"Kalau ada hasil psikotesnya yang berkaitan dengan dalam tanda kutip penyimpangan ya kami tidak akan berikan rekomendasi," ujarnya.

Perihal predikat Sekolah Ramah Anak (SRA), Thamrin menuturkan ada 200 sekolah yang menyandang predikat tersebut.

Sekolah yang menyandang predikat SRA harus menjamin kenyamanan dan keamanan anak, sejak belajar hingga pulang ke rumahnya.

"Kurang lebih sudah menetapkan 200 sekolah yang ditetapkan sebagai sekolah ramah anak. Kenyamanan anak ini harus dibarengi kemampuan dan attitude tenaga pendidik," tuturnya.

Sebelumnya, Disdik Depok sendiri tak mencabut predikat SRA di tempat Waliarahman, oknum guru honorer yang mencabuli 13 murid laki-lakinya karena menilai tak semua guru bersalah.

Dicokok Saat Lamar Kekasih, Fausi Cerita Terjadinya Pelecehan di Balik Pintu Besuk Lapas Karangasem

Terkait Dugaan Pelecehan Seksual: Marko Simic Merasa Tidak Bersalah

Waliarahman sendiri mengajukan banding atas vonis 12 tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok pada Senin (7/1/2019).

"Tetap, yang rusak ini kan gurunya. Kalau sekolah kan masih ada tenaga kerja yang lainnya, sekolahnya juga memang bagus. Oknumnya kan sudah kita keluarkan," kata Thamrin, Rabu (6/6/2018).

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved