Neno Warisman Moncer setelah Bacakan Puisi di Malam Munajat 212: Ini Sepak Terjangnya

Neno Warisman moncer setelah video dirinya membacakan puisi di Malam Munajat 212 mengundang pro dan kontra. Ini sepak terjang Neno Warisman.

Penulis: Erlina Fury Santika | Editor: Y Gustaman
ISTIMEWA/Tangkap layar youtube
Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Neno Warisma saat membacakan doa di hadapan jemaah acara malam Munajat 212 di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019) malam. 

Ayo munajat

Ayo rekatkan umat

Jadikan barisanmu kuat dan saling rekat

Rekatkan Indonesiamu

Rekatkan jiwa-jiwamu

Rekatkan langkah dan tindakanmu

Ya Allah

Berjuta tangan para pejuang agamamu ini

Mengepalkan tinju mereka

Berseru-seru mereka

Menderu-deru mereka

Di setiap jengkal udara

Hingga terlahir takbir kemenangan

Kemenangan di ujung lelah

Menggema takbir bersahut-sahutan

Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi, kawan

Berjuta kepala menangis bersujud bersyukur

Basah air mata dalam bahagia

Kemenangan sebentar lagi tiba

Allahumma inni a'uzubika min jahdil bala'i wa darkisy syaqa'i wa su'il qada'i wa syamatatil a'da'i

Jauhkan kami dari bala musibah yang tak dapat kami atasi

Lindungkan kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami

Rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan

Di nadi-nadi kami

Di jantung-jantung kami

Di pundak-pundak kami

Di jari-jari kami

Yang telah memilih untuk hanya selalu berdua

Kita dan Allah Azza Wa Jalla

Selalu berdua

Kita dan Rasulullah kekasih semesta

Selalu berdua

Kita dan saudara mukmin saling menjaga

Selalu berdua

Kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya

Duhai Allah Rabb

Jangan kau jadikan hati kami bagai si penakut pengecut

Sebab kami terlahir di tanah para pahlawan pemberani

Yang rela mengorbankan jiwa raga harta dan segalanya

Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar

Karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar

Menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar

Yang berani berpihak pada yang benar

Duhai Allah

Jangan kau jadikan hati kami dari tertutup

Dari cahaya terang kebenaran yang menyala di malam-malam munajat

Saat Engkau turun ke jagat dunia

Telah Engkau bersaksikan

Kami tegak berdiri, ya Allah

Kami meminta menangis hingga basah sekujur diri kepada-Mu

Seluruh harapan kami dambakan

Akan Kau tolong atau Engkau binasakan

Akan Kau menangkan atau Engkau lantakkan

Itu hak-Mu

Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka

Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami

Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Ya Allah

Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin

Oleh pemimpin terbaik

Dengan pasukan terbaik

Untuk negeri adil dan makmur terbaik

Takdirkanlah bagi kami

Generasi yang dapat kami andalkan

Untuk mengejar nubuwwah kedua

Wujud dan nyata

Dan lahirnya sejuta Al Fatih di Bumi Indonesia

Allah Rabb

Puisi munajat ini kubaca bersama saudara-saudaraku

Mujahid mujahidah yang datang berbondong-bondong dari segala arah

Maka inilah puisi munajat

Mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu

Bersimpuh di pelataran keprihatinan

Atas ketidakadilan

Atas kesewenang-wenangan

Atas kebohongan demi kebohongan

Atas ketakutan dan ancaman yang ditebar-tebarkan

Atas kepongahan dalam kezaliman yang dipamer-pamerkan

Dalam pertunjukan kekuasaan

Yang mengkerdilkan Tuhan

Yang menantang kuasa Tuhan

Yang tidak percaya bahwa Tuhan pembalas sempurna

Ya Rabb

Engkaulah yang memiliki kekuasaan mutlak di seluruh jagat ini

Allah

Ini puisi munajat

Yang mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu

Turunkanlah malaikat berbaris-baris

Burung-burung Ababil

Dan semut-semut pemadam api Ibrahim

Munajat penuh harap

Kau turunkan pertolongan yang dijanjikan

Bagi yang terdera

Bagi pemimpin yang terfitnah

Bagi ulama yang dipenjara

Bagi pejuang yang terus dihadang-hadang

Bagi pembela keadilan yang digelandang ke bilik-bilik pesakitan

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad

Wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad

Wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin

Wa akhrijna min baynihim saalimin

Wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in

Untuk hari depan yang lebih baik

Untuk kepemimpinan yang berpihak pada rakyat

Bersama-Mu, bersama rasul-Mu

Dalam ketinggian titah-Mu, kami bermunajat

Keluarkan kami dari gelap

Keluarkan kami dari gelap

Keluarkan kami dari gelap

Amin Allahumma Amin ya rabbal alamin

Puisi itu sontak menuai beragam reaksi dari berbagai kalangan.

Fahri Hamzah, misalnya. Wakil Ketua DPR RI itu menilai puisi Neno Warisman begitu mengetuk pintu langit.

"Bener2 mengetuk pintu langit," tulisnya di akun Twitternya, Jumat (22/1/2019).

Lain halnya reaksi yang ditimbulkan oleh satu tim Maruf Amin, Habib Sholeh Al Muhdar.

Ia menyebut puisi Neno Warisman di Malam Munajat 212 dianggap 'mengancam' Tuhan.

"Surga tidak gratis. Jadi jangan menangis di hadapan manusia, tapi hatinya dengki, hasut. Semua manusia itu (berdoa) dari hati," kata Habib Sholeh menjawab wartawan di sela Safari Kebangsaan VIII, di Bandung, Sabtu (23/2/2019).

Terlepas dari reaksi terhadap pembacaan puisinya itu, siapakah Neno Warisman sebenarnya?

Profil Neno Warisman

Dilansir berbagai sumber, pemilik nama asli Titi Widoretno Warisman ini lahir di Banyuwangi, Jawa Timur pada 21 Juni 1964. Usianya saat ini menginjak 54 tahun.

Jauh sebelum dikenal sebagai aktivis, atau bisa juga sebagai politikus, Neno Warisman merupakan penyanyi dan bintang film era 1980an.

Darah seninya sudah terlihat sejak dini. Kecintaannya pada puisi dan deklamasi mengantarkan ia menjadi juara baca puisi se-Jakarta pada 1978.

Nama Neno Warisman melambung saat ia mengeluarkan album Matahariku.

Ia juga menelurkan karya hasil kolaborasi dengan Fariz RM, Nada Kasih, yang cukup terkenal kala itu.

Namun di balik lagu popnya, Neno Warisman juga sempat mengeluarkan single religi yang bertajuk A Ba Ta Tsa.

Sementara itu, ia juga sudah tercatat membintangi berbagai film.

Melalui film Sayekti dan Hanafi yang ditayangkan di TVRI yang disutradai Irwinsyah, Neno Warisman diganjar penghargaan Piala Vidia, penghargaan untuk insan pertelevisian di bawah Festival Film Indonesia, tahun 1988.

Pada film selanjutnya, Semua Sayang Kamu (1989) ia masuk dalam nominasi aktris terbaik Festival Film Indonesia 1989.

Berikut sederet karya Neno Warisman.

Album
Neno (1983)
Matahariku (1983)
Matahatiku (1984)
Kulihat Cinta Dimatanya (1985)
Katakan Cinta Padaku (1986)
Pujaan Dewi (1987)
Sebuah Obsesi (1988)

Penampilan lain
1986 - Festival Lagu Populer Indonesia 1986 Lagu "GETAR ASMARA" karya Fifi Embut & Tb. Rudi F.
1987 - album Fariz RM "Do Not Erase" duet menyanyikan lagu "Nada Kasih"
1988 - album Karimata "Biting" menyanyikan lagu "Terjadi Lagi"
1988 - album "Hanya Satu Kamu" dari Fariz RM dan Deddy Dhukun menyanyikan lagu "Dan Senyum Itu" karya Sonny Soebowo
1989 - album Kompilasi Semua Sayang Kamu Dewi & Cipluk"
1989 - album Kompilasi 10 Vokalis Utama Bintang Khatulistiwa lagu "BIARKAN SAJA" karya Rezky Ichwan & Ferina

Memasuki tahun 1990-an, sosoknya semakin menghilang di industri hiburan.

Namun dengan berani, pada 1991, ia memutuskan mengenakan jilbab. Diketahui, kala pemerintahan Orde Baru, jilbab belum terlalu bisa bebas dikenakan.

Setelah memutuskan hijrah, Neno Warisman banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial, pendidikan dan tentunya, dunia religi.

Di masa-masa transisi itu, ia juga aktif membantu sosialisasi program Pendidikan Anak Dini Usia (PAUD) Departemen Pendidikan Nasional. Sering diundang untuk berbicara di seminar-seminar para ibu.

Kehidupan pribadi

Neno Warisman menikah dengan Ahmad Widiono Doni Wiratmoko pada 1992. Kala itu usianya menginjak 28 tahun.

Dari hasil pernikahannya itu, Neno Warisman dikaruniai 3 anak yang kerap disapa Zaka, Maghfira, dan Ramadhani.

Namun sayang, pernikahannya itu kandas. Hingga kini, Neno Warisman menjadi orangtua tunggal untuk ketiga anaknya.

Setelah hilang dari industri hiburan dan berhijrah, Neno Warisman bekerja sebagai entrepreneur.

Ia diketahui membuka usaha biro perjalanan haji dan umrah.

Banting setir ke dunia politik

Neno Warisman belakangan justru terlihat sibuk di kancah perpolitikan negeri.

Namanya muncul lagi di media massa saat kasus penistaan agama oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama.

Ia terlihat sebagai sosok yang aktif menyuarakan perlawanan terhadap Ahok, sapaan Mantan Gubernur tersebut.

Neno Warisman bahkan menginisiasikan Gerakan Ibu negeri (GIN), garda terdepan ibu-ibu dalam menentang Ahok.

Donatur terbesar #2019GantiPresiden

Karier politiknya makin terlihat setelah ia turut terjun dalam gerakan #2019GantiPresiden.

Inisiator gerakan, Mardani Ali Sera, menyebut gerakan tersebut didanai oleh relawan.

Namun, politikus dari PKS itu menyebut donatur terbesar berasal dari Neno Warisman.

"Sekarang ini (dananya) sekitar Rp 40 juta rupiah," ujarnya kepada Kompas.com di sisi selatan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (6/5/2018). (TribunJakarta.com/Tribunnews.com/Kompas.com/Berbagai sumber)

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved