Preman Kampung yang Kuasai Lahan di Cengkareng Dijanjikan Upah Rp 2 Juta

18 preman kampung yang menduduki lahan kosong di Jalan Kamal Raya RT 07/09, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat dijanjikan upah Rp 2 juta.

Preman Kampung yang Kuasai Lahan di Cengkareng Dijanjikan Upah Rp 2 Juta
TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra
Polres Metro Jakarta Barat menunjukan barang bukti senjata tajam dari para preman kampung yang diamankan. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Elga Hikari Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PALMERAH - 18 preman kampung yang menduduki lahan kosong di Jalan Kamal Raya RT 07/09, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat dijanjikan upah Rp 2 juta oleh NE.

Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Barat, Iptu Dimitri Mahendra menjelaskan NE adalah ‎pengacara yang menyuruh preman kampung itu menjaga lahan tersebut.

Saat ini, NE juga telah diamankan Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.

"Mereka itu dijanjikan Rp 2 juta per orang untuk satu bulan. Tapi belum dibayar karena baru dua minggu mereka sudah ditangkap. NE ini adalah pengacara yang disuruh oleh yang katanya pemilik lahan itu untuk mencari preman disana," kata ‎di Mapolres Metro Jakarta Barat, Jumat (1/3/2019).

VIDEO Bermodal Surat Lurah Tahun 1970, Belasan Preman Kuasai Lahan Kosong di Cengkareng

Tim Jaguar Polresta Depok Ringkus 20 Preman Diduga Sering Intimidasi Pekerja Tol Cijago

‎Dimitri memastikan preman kampung tersebut bukanlah kelompok dari Hercules yang beberapa waktu lalu juga diungkap Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.

"Enggak berkaitan (dengan Hercules), ini memang preman situ dan enggak ada nama kelompoknya," kata Dimitri.

Sebelumnya, 18 preman kampung itu menduduki lahan seluas sekira 13.500 m2 hanya berdasarkan keterangan Lurah Cengkareng yang dikeluarkan pada tahun 1970.

Padahal, berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional‎ (BPN) lahan tersebut sudah secara sah milik orang lain yang dibuktikan dengan Sertifikat Hak Milik (SHM).

Untuk meyakinkan seolah lahan tersebut adalah milik orang yang menyuruhnya, para preman juga memasang dua plang nama di lokasi.

Plang tersebut bertuliskan bahwa tanah garapan tersebut adalah milik Alm Nawi bin ‎Ajab dan Alm Oseh bin Pain berdasarkan surat keterangan Lurah Cengkareng‎ pada tahun 1970.

Selain ‎menguasai lahan, para preman kampung itu juga membangun bedeng ‎dan toilet di lokasi‎.

Puncaknya, para preman mengancam para kuli bangunan suruhan pemilik tanah yang sah ‎yang saat itu sedang membangun tembok di lahan tersebut.

‎Atas perbuatannya, kini ke-19 tersangka itu telah mendekam di Mapolres Metro Jakarta Barat dengan dikenakan Pasal 335 Ayat (1) ke-1e KUHP tentang memaksa dengan ancaman atau perbuatan untuk melakukan sesuatu dan Pasal 167 KUHP tentang memaksa masuk ke rumah atau pekarangan tertutup tanpa izin.

Penulis: Elga Hikari Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved