Berharap Dihukum Berat, Kepala Kemenag Tangsel Prihatin Guru Ngaji Diduga Cabuli Murid di Pamulang

Selain itu, ada juga anak guru ngaji, yang seorang marbot masjid, atas nama AZ (17) merudapaksa murid ayahnya di bilangan Ciputat Timur.

Berharap Dihukum Berat, Kepala Kemenag Tangsel Prihatin Guru Ngaji Diduga Cabuli Murid di Pamulang
Kompas.com/ Shutterstock
Ilustrasi kekerasan pada anak 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Kepala Kantor Kementerian Agama Tangerang Selatan (Tangsel), Abdul Rojak, prihatin atas kasus pencabulan guru ngaji terhadap muridnya yang terjadi di awal tahun ini.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Polres Tangerang Selatan berhasil mengungkapkan kasus pencabulan guri ngaji bernama Buchori (60) terhadap muridnya, di Pamulang.

Selain itu, ada juga anak guru ngaji, yang seorang marbot masjid, atas nama AZ (17) merudapaksa murid ayahnya di bilangan Ciputat Timur.

"Saya sangat prihatin atas terjadinya pelecehan seksual terhadap anak oleh guru ngaji. Saya berharap aparat penegak Hukum segera melakukan tindakan dan memproses kasus ini secara hukum agar menimbulkan efek jera agar kasus serupa tidak terjadi lagi," terang Rojak saat dihubungi awak media, Senin (4/3/2019).

VIDEO Anak Guru Ngaji Rudapaksa Murid Ayahnya Akibat Nonton Video Porno

Rojak berharap tersangka dihukum aeberat-beratnya sesuai pasal yang disangkakan.

"Saya berharap guru ngaji cabul ini dihukum berat karena memberikan contoh yang tidak baik," jelasnya.

Rojak mengatakan pihaknya melakukan pembinaan terhadap guru ngaji secara periodik.

Meskipun Buchori tidak terdaftar di Kemenag Tangsel sebagai guru ngaji, namun ia akan mempersiapkan penggantinya.

"Kemenag Tangsel akan mempersiapkan guru ngaji baru agar proses belajar mengajar di tempat ngaji itu tidak mandek," ujarnya.

Anak Guru Ngaji Nekat Cabuli Murid Ayahnya karena Terpengaruh Video Porno

Rojak memberikan catatan khusus soal lokasi pengajian yang menurutnya berada di masjid atau mushola.

"Seharusnya tempat ngajinya jangan di rumah tapi di masjid atau di langgar agar lebih terjaga dari hal-hal mesum," jelasnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved