Tribun Wiki

Merayakan Nyepi, Merayakan Sukacita dalam Keheningan

Pertanyaan pertama yang mungkin timbul pada orang awam yang tak merayakan Hari Raya Nyepi adalah, bagaimana merayakan hari bahagia dalam keheningan?

Merayakan Nyepi, Merayakan Sukacita dalam Keheningan
Tribun Bali/ Rizal Fanany
Suasana di kawasan lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali 

Namun yang menjadi catatannya, pelaksanaan brata penyepian bagi umat Hindu di luar Bali sedikit berbeda.

"Bagaimana mungkin mematikan penerangan di rumah tetangga, melarang kendaraan berlalu-lalang, meminta tetangga tidak membunyikan radio, tape recorder, atau TV? Karena itu pelaksanaan brata penyepian hanya sebatas di tempat tinggalnya sendiri." tulisnya

Seperti halnya Idul Fitri, seusai melaksanakan brata penyepian selama 24 jam penuh, mereka bersilaturahmi saling memaafkan.

"Kegiatan itu dikenal ngembak agni, labuh brata, atau labuh puasa. Sejak itu warga Hindu memasuki hidup baru," tulisnya.

Sederet fakta perayaan Nyepi

Dilansir Tribunnews.com dari Tribunbali.com, perayaan Hari Raya Nyepi berdasarkan pada penanggalan kalender Saka.

Kalender Saka sudah ada sejak tahun 78 masehi, dan sama-sama memiliki 12 bulan dalam satu tahun.

Hari Raya Nyepi dimulai pukul 06.00 Wita, Kamis (7/3/2019) hingga Jumat (8/3/2019) pukul 06.00 Wita, umat Hindu melakukan catur brata penyepian.

Pulau Bali memang terkenal dengan adat dan kebudayaan yang masih begitu kental dan beragam tradisi yang dirayakan setiap harinya.

Ternyata sebelum dan sesudah Nyepi masih ada tradisi yang dilakukan di Bali.

Apa saja tradisinya? Berikut ini rangkuman tradisi sebelum hingga sesudah nyepi yang ada di Bali yang telah dirangkum Tribunnews.com dari berbagai sumber pada Rabu (6/3/2019).

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti diadakan dua hari sebelum hari Nyepi.

Dilansir dari Grid.ID dalam upacara Melasti, umat Hindu di Bali melakukan ibadah atau sembahyang di laut.

Yang menarik dari tradisi ini adalah aneka macam persembahan yang diarak dari pura ke pantai.

Kamu bisa menyaksikan upacara Melasti di Pantai Sanur, Pantai Candidasa atau Pantai Klotok.

Umat Hindu di Samarinda dan sekitarnya melaksanakan prosesi rangkaian hari raya nyepi, yakni Melasti di tepian sungai Mahakam, Minggu (11/3/2018).
Umat Hindu di Samarinda dan sekitarnya melaksanakan prosesi rangkaian hari raya nyepi, yakni Melasti di tepian sungai Mahakam, Minggu (11/3/2018). (tribunkaltim/Christoper D)

2. Ngerupuk (Pawai Ogoh-ogoh)

Acara pawai Ogoh-ogoh menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan saat Nyepi.

Acara ini diadakan sehari sebelum Nyepi.

Pawa ini biasanya ditandai dengan patung Ogoh-ogoh yang diusung oleh banyak orang dan diarak berkeliling dan kemudian dibakar.

Salah seorang budayawan, Nyoman Santiawan mengatakan pada akhirnya ogoh-ogoh yang menjadi gambaran sifat buruk manusia akan dibakar seperti dilansir dari Tribun Jogja.

Kamu dapat menyaksikan pawai Ogoh-ogoh ini di Kuta, Bali.

PAWAI OGOH-OGOH. Peserta pawai menggotong ogoh-ogoh saat berlangsung pawai ogoh-ogoh di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019).
PAWAI OGOH-OGOH. Peserta pawai menggotong ogoh-ogoh saat berlangsung pawai ogoh-ogoh di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019). (TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI)

3. Nyepi

Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian atau empat pantangan.

Empat pantangan itu yakni amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelangunan (tidak bersenag-senang).

Tradisi Nyepi sebenarnya merupakan hari di mana para umat Hindu merefleksikan diri dengan apa yang telah mereka lakukan sepanjang tahun sebelumnya.

Mereka menghentikan segala kegiatan dan memfokuskan diri untuk memikirkan segala tindaknya yang telah lalu.

Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat Hindu telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama.

4. Ritual

Seeka Teruna-Teruni (Pemuda-Pemudi) Satya Dharma Kerti saat mengikuti Tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan, Denpasar, Rabu (29/3/2017).
Seeka Teruna-Teruni (Pemuda-Pemudi) Satya Dharma Kerti saat mengikuti Tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan, Denpasar, Rabu (29/3/2017). (TRIBUN_BALI/Rizal Fanany (RIZ))

Sehari setelah Nyepi, masih ada tradisi yang dilaksanakan di Bali salah satunya tradisi Omed-omedan.

Tradisi Omed-omedan dilaksanakan oleh masyarakat Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar Selatan.

Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 dan terus berlangsung hingga saat ini.

Sekali waktu di masa lalu, tradisi ini pernah ditiadakan, tiba-tiba di tengah desa muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung.

Masyarakat setempat menganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk, sehingga sesepuh desa segera memanggil kembali para muda-mudi untuk berkumpul dan menyelenggarakan Omed-omedan seperti biasa.

Setelah kejadian itu, tradisi ini terus diadakan secara rutin sebagai upaya agar desa terhindar dari malapetaka.

Tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pemuda dan pemudi berusia 17 hingga 30 tahun dengan yang saling tarik-menarik, memeluk, dan mencium pipi.

Kemeriahan semakin terasa saat muda-mudi bertabrakan, kemudian saat saling berangkulan itu mereka disiram dengan air.

Acara adat ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan, rasa syukur, sekaligus memupuk kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebelum melakukan acara ini, semua peserta diwajibkan mengikuti upacara atau sembahyang di Pura Banjar.

5. Mebuug-Buugan

http://cdn2.tstatic.net/bali/foto/bank/images/mebuug_20160311_130250.jpg
Mebuug-Buugan (TRIBUN BALI)

Tradisi Mebuug-buugan dimiliki oleh krama (warga) Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Tradisi Mebuug-buugan diambil dari kata “buug” yang berarti tanah atau lumpur yang bermakna membersihkan diri di tahun baru ala Hindu.

Bagi mereka yang mengikuti Tradisi Mebuug-buugan ini, akan mengotori badan mereka dengan lumpur.

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki dan perempuan dari semua usia.

Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan.

Usai mengotori diri di pantai bagian timur, ratusan peserta mebuug-buugan kemudian berjalan menuju pantai di bagian barat untuk membersihkan diri.

Bagi masyarakat awam, tradisi ini mungkin dirasa aneh, akan tetapi tradisi mebuug-buugan sudah ada sejak seratus tahun lalu.

Hanya saja, tradisi tersebut sempat terhenti selama 60 tahun dan baru pada tahun 2015 setelah melalui proses rekonstruksi.

6. Kuliner Khas Saat Nyepi

Selain melakukan persembahyangan, ada juga berbagai makanan khas yang disajikan.

Berikut ini makanan khas yang wajib disajikan saat nyepi dilansir dari Tribunbali.com.

Nasi Tepeng

Makanan tradisional khas Gianyar Bali ini memiliki rasa yang pedas dengan bumbu aneka rempah pilihan yang dimasak menjadi satu.

Masakan ini berisi sayuran seperti kacang panjang, kacang merah, nangka muda, terong, dan daun kelor serta tambahan kelapa parut di atasnya..

Nasi Tepeng disajikan dengan menggunakan daun pisang sehingga menjadikan rasanya lebih nikmat.

Lawar

Lawar
Lawar (TRIBUN BALI)

Makanan ini terbuat dari campuran sayuran dan daging cincang yang diberi bumbu khas Bali.

Penamaan lawar sendiri tergantung dari jenis bahan yang digunakan.

Jika menggunakan sayuran dari nangka muda maka namanya menjadi lawar nangka, begitu pula dengan bahan lainnya.

Pulung Nyepi

Hidangan khas Kelurahan Sukasada ini merupakan salah satu jajanan yang disajikan dalam tradisi umat Hindu saat Pengerupukan yaitu satu hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Bahannya terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan tepung kanji lalu dikukus, diuleni, dibentuk, kemudian direbus hingga matang, dan disajikan dengan parutan kelapa muda di atasnya.

Entil

Entil merupakan makanan tradisional masyarakat Desa Wongaya Gede yang dibuat khusus pada Hari Raya Nyepi.

Makanan ini sejenis ketupat yang dibuat dari beras kemudian dibungkus daun lalu diikat dengan bambu.

Cerorot

Cerorot merupakan jajanan kue basah yang paling disukai oleh anak-anak, karena rasanya yang manis dan bentuknya yang unik.

Cerorot memiliki bentuk yang memanjang seperti kerucut dan dibentuk dari cetakan kulit ental.

Adonan yang telah diuleni kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dikukus hingga matang.

Ayam Betutu

Ayam Betutu
Ayam Betutu (TRIBUN BALI)

Ayam Betutu merupakan makanan yang sering kali dijadikan sajian untuk acara sesembahan saat upacara keagamaan umat Hindu.

Ayam Betutu diolah dengan cara dipanggang dalam api sekam.

Ayam Betutu ini merupakan masakan kebanggaan dan khas masyarakat Bali. (TribunJakarta.com Erlina F Santika/TribunBali.com I Gede Agung Yudana/Tribunnews.com Bunga)

Penulis: Erlina Fury Santika
Editor: Ilusi Insiroh
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved