Tribun Wiki

Merayakan Nyepi, Merayakan Sukacita dalam Keheningan

Pertanyaan pertama yang mungkin timbul pada orang awam yang tak merayakan Hari Raya Nyepi adalah, bagaimana merayakan hari bahagia dalam keheningan?

Merayakan Nyepi, Merayakan Sukacita dalam Keheningan
Tribun Bali/ Rizal Fanany
Suasana di kawasan lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali 

TRIBUNJAKARTA.COM - Indonesia tumbuh di atas keberagaman agama dengan perayaan yang tentu saja berbeda.

Hari Raya Nyepi, misalnya. Perayaan umat Hindu ini memiliki ciri khas dengan merayakan hari bahagianya dalam senyap.

Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada besok, Kamis (7/3/2019).

I Gede Agung Yudana dalam tulisannya di Tribun Bali setahun silam, menceritakan bagaimana perayaan akbar itu berlangsung di Bali, daerah yang dihuni mayoritas penganut Hindu.

Bali diselimuti keheningan pada hari itu. Bahkan menurutnya, gonggongan anjing pun akan terdengar nyaring meski di siang bolong.

Daerah yang kerap melek dan disatroni para wisatawan menjadi sepi lantaran warung, toko, swalayan hingga mal tertutup rapat,

"Bila malam tiba, Bali menjadi hitam. Gelap gulita. Nyaris tidak ada sinar lampu setitik pun," tulis Agung Yudana.

Hari itu juga menjadi hari yang bersahabat untuk paru-paru beberapa orang yang bisa melintas di sana.

Sebab udara segar mengalir nyaris tanpa asap yang biasanya dihembuskan oleh knalpot kendaraan bermotor.

Hanya beberapa kendaraan yang bisa melintas: mobil ambulans, kendaraan antar-jemput tamu hotel, dan kendaraan ABRI, termasuk kepolisian, dengan dispensasi khusus.

Wartawan pun, tulis Agung, tak semuanya bisa meliput kegiatan Nyepi di Bali.

Bukan tanpa alasan, aturan Nyepi di Bali memang demikian dibuat agar perayaan suci itu berlangsung khidmat.

Jelang Hari Raya Nyepi, Kondisi Jalan Menuju Bandara Soekarno-Hatta Lebih Padat Pagi ini

Besok, 5 Ribu Umat Hindu Ikuti Pelaksanaan Puncak Hari Raya Nyepi di Pura Aditya Jaya

VIDEO Melihat Persiapan Pura Wira Satya Bhuana Jelang Hari Raya Nyepi

Selain pecalang, tidak ada umat lain yang dapat menyaksikan secara langsung lengang dan gelapnya Bali.

Dengan berpakaian adat, pecalang yang ditunjuk oleh warga desa adat memang diberi tugas menjaga keamanan setiap sudut desa.

Agung menuturkan, mengawasi dan “menghalau masuk” warga atau orang asing yang kedapatan melanggar ketentuan adat, tidak boleh keluar dari tempat tinggal.

Nyaris tanpa gerak, cahaya dan suara

Hari yang dikenal dengan tahun baru saka 1 Waisakha itu dinilai unik, sebab tahun baru itu justru tidak dirayakan di India, tempat lahirnya agama ini.

Pun berlaku di Nepal, satu-satunya negara Hindu di dunia.

Namun tidak berarti perayaan Nyepi melanggar akidah, karena pelaksanaan ajaran agama Hindu yang disesuaikan dengan kekayaan tradisi setempat malah dianjurkan.

Lantas, bagaimana bisa merayakan sukacita dalam keheningan bagi mereka yang merayakan Nyepi?

Agung menyebut, Nyepi justru membawa misi menjadikan alam semesta bersih, serasi, selaras dan seimbang bagi kesejahteraan umat manusia.

Pada perayaan itu umat Hindu menanggalkan sederet aktivitas duniawinya.

"Yang mereka lakukan semata-mata hanyalah menyepi, menyendiri, merenung tentang alam semesta tempat hidupnya, tentang hubungan antarmanusia, tentang hubungannya dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)," tulis Agung.

Di titik itulah justru manusia mendapatkan kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan hakiki akan didapatkan bagi mereka yang bisa terkoneksi secara baik dengan Tuhannya.

Nyepi sendiri ditempuh oleh para penganutnya dengan melakukan tapa (mengekang indera), brata (taat pada janji melaksanakan yoga), yoga (menyatukan diri dengan Tuhan), dan semadhi (memusatkan pikiran untuk mencapai kebahagiaan sejati).

Agung menjelaskan, bersamaan dengan itu umat mengevaluasi perilaku diri sendiri sepanjang tahun lalu.

"Apakah segala tindak-tanduk telah sesuai dengan dharma (ajaran agama)? Apakah artha (kekayaan) telah diperoleh dengan cara dharma dan untuk memperkokoh dharma?"

"Apakah kama (kesenangan) yang telah dinikmati juga berlandaskan dharma? Kalau ada yang tidak sesuai dengan dharma, tentunya mesti ditinggalkan," tulisnya.

Lebih lanjut, Agung menjelaskan agar perenungan berjalan dengan baik, umat melaksanakan brata penyepian, yang meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan kegiatan duniawi), amati lelangunan (tidak mencari kesenangan duniawi), dan amati lelunganan (tidak bepergian).

Jadi tak heran jika Bali saat itu tak hanya hening, namun juga diselimuti kegelapan karena nyaris tak ada penerangan.

Namun yang menjadi catatannya, pelaksanaan brata penyepian bagi umat Hindu di luar Bali sedikit berbeda.

"Bagaimana mungkin mematikan penerangan di rumah tetangga, melarang kendaraan berlalu-lalang, meminta tetangga tidak membunyikan radio, tape recorder, atau TV? Karena itu pelaksanaan brata penyepian hanya sebatas di tempat tinggalnya sendiri." tulisnya

Seperti halnya Idul Fitri, seusai melaksanakan brata penyepian selama 24 jam penuh, mereka bersilaturahmi saling memaafkan.

"Kegiatan itu dikenal ngembak agni, labuh brata, atau labuh puasa. Sejak itu warga Hindu memasuki hidup baru," tulisnya.

Sederet fakta perayaan Nyepi

Dilansir Tribunnews.com dari Tribunbali.com, perayaan Hari Raya Nyepi berdasarkan pada penanggalan kalender Saka.

Kalender Saka sudah ada sejak tahun 78 masehi, dan sama-sama memiliki 12 bulan dalam satu tahun.

Hari Raya Nyepi dimulai pukul 06.00 Wita, Kamis (7/3/2019) hingga Jumat (8/3/2019) pukul 06.00 Wita, umat Hindu melakukan catur brata penyepian.

Pulau Bali memang terkenal dengan adat dan kebudayaan yang masih begitu kental dan beragam tradisi yang dirayakan setiap harinya.

Ternyata sebelum dan sesudah Nyepi masih ada tradisi yang dilakukan di Bali.

Apa saja tradisinya? Berikut ini rangkuman tradisi sebelum hingga sesudah nyepi yang ada di Bali yang telah dirangkum Tribunnews.com dari berbagai sumber pada Rabu (6/3/2019).

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti diadakan dua hari sebelum hari Nyepi.

Dilansir dari Grid.ID dalam upacara Melasti, umat Hindu di Bali melakukan ibadah atau sembahyang di laut.

Yang menarik dari tradisi ini adalah aneka macam persembahan yang diarak dari pura ke pantai.

Kamu bisa menyaksikan upacara Melasti di Pantai Sanur, Pantai Candidasa atau Pantai Klotok.

Umat Hindu di Samarinda dan sekitarnya melaksanakan prosesi rangkaian hari raya nyepi, yakni Melasti di tepian sungai Mahakam, Minggu (11/3/2018).
Umat Hindu di Samarinda dan sekitarnya melaksanakan prosesi rangkaian hari raya nyepi, yakni Melasti di tepian sungai Mahakam, Minggu (11/3/2018). (tribunkaltim/Christoper D)

2. Ngerupuk (Pawai Ogoh-ogoh)

Acara pawai Ogoh-ogoh menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan saat Nyepi.

Acara ini diadakan sehari sebelum Nyepi.

Pawa ini biasanya ditandai dengan patung Ogoh-ogoh yang diusung oleh banyak orang dan diarak berkeliling dan kemudian dibakar.

Salah seorang budayawan, Nyoman Santiawan mengatakan pada akhirnya ogoh-ogoh yang menjadi gambaran sifat buruk manusia akan dibakar seperti dilansir dari Tribun Jogja.

Kamu dapat menyaksikan pawai Ogoh-ogoh ini di Kuta, Bali.

PAWAI OGOH-OGOH. Peserta pawai menggotong ogoh-ogoh saat berlangsung pawai ogoh-ogoh di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019).
PAWAI OGOH-OGOH. Peserta pawai menggotong ogoh-ogoh saat berlangsung pawai ogoh-ogoh di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019). (TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI)

3. Nyepi

Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian atau empat pantangan.

Empat pantangan itu yakni amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelangunan (tidak bersenag-senang).

Tradisi Nyepi sebenarnya merupakan hari di mana para umat Hindu merefleksikan diri dengan apa yang telah mereka lakukan sepanjang tahun sebelumnya.

Mereka menghentikan segala kegiatan dan memfokuskan diri untuk memikirkan segala tindaknya yang telah lalu.

Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat Hindu telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama.

4. Ritual

Seeka Teruna-Teruni (Pemuda-Pemudi) Satya Dharma Kerti saat mengikuti Tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan, Denpasar, Rabu (29/3/2017).
Seeka Teruna-Teruni (Pemuda-Pemudi) Satya Dharma Kerti saat mengikuti Tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan, Denpasar, Rabu (29/3/2017). (TRIBUN_BALI/Rizal Fanany (RIZ))

Sehari setelah Nyepi, masih ada tradisi yang dilaksanakan di Bali salah satunya tradisi Omed-omedan.

Tradisi Omed-omedan dilaksanakan oleh masyarakat Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar Selatan.

Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 dan terus berlangsung hingga saat ini.

Sekali waktu di masa lalu, tradisi ini pernah ditiadakan, tiba-tiba di tengah desa muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung.

Masyarakat setempat menganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk, sehingga sesepuh desa segera memanggil kembali para muda-mudi untuk berkumpul dan menyelenggarakan Omed-omedan seperti biasa.

Setelah kejadian itu, tradisi ini terus diadakan secara rutin sebagai upaya agar desa terhindar dari malapetaka.

Tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pemuda dan pemudi berusia 17 hingga 30 tahun dengan yang saling tarik-menarik, memeluk, dan mencium pipi.

Kemeriahan semakin terasa saat muda-mudi bertabrakan, kemudian saat saling berangkulan itu mereka disiram dengan air.

Acara adat ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan, rasa syukur, sekaligus memupuk kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebelum melakukan acara ini, semua peserta diwajibkan mengikuti upacara atau sembahyang di Pura Banjar.

5. Mebuug-Buugan

http://cdn2.tstatic.net/bali/foto/bank/images/mebuug_20160311_130250.jpg
Mebuug-Buugan (TRIBUN BALI)

Tradisi Mebuug-buugan dimiliki oleh krama (warga) Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Tradisi Mebuug-buugan diambil dari kata “buug” yang berarti tanah atau lumpur yang bermakna membersihkan diri di tahun baru ala Hindu.

Bagi mereka yang mengikuti Tradisi Mebuug-buugan ini, akan mengotori badan mereka dengan lumpur.

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki dan perempuan dari semua usia.

Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan.

Usai mengotori diri di pantai bagian timur, ratusan peserta mebuug-buugan kemudian berjalan menuju pantai di bagian barat untuk membersihkan diri.

Bagi masyarakat awam, tradisi ini mungkin dirasa aneh, akan tetapi tradisi mebuug-buugan sudah ada sejak seratus tahun lalu.

Hanya saja, tradisi tersebut sempat terhenti selama 60 tahun dan baru pada tahun 2015 setelah melalui proses rekonstruksi.

6. Kuliner Khas Saat Nyepi

Selain melakukan persembahyangan, ada juga berbagai makanan khas yang disajikan.

Berikut ini makanan khas yang wajib disajikan saat nyepi dilansir dari Tribunbali.com.

Nasi Tepeng

Makanan tradisional khas Gianyar Bali ini memiliki rasa yang pedas dengan bumbu aneka rempah pilihan yang dimasak menjadi satu.

Masakan ini berisi sayuran seperti kacang panjang, kacang merah, nangka muda, terong, dan daun kelor serta tambahan kelapa parut di atasnya..

Nasi Tepeng disajikan dengan menggunakan daun pisang sehingga menjadikan rasanya lebih nikmat.

Lawar

Lawar
Lawar (TRIBUN BALI)

Makanan ini terbuat dari campuran sayuran dan daging cincang yang diberi bumbu khas Bali.

Penamaan lawar sendiri tergantung dari jenis bahan yang digunakan.

Jika menggunakan sayuran dari nangka muda maka namanya menjadi lawar nangka, begitu pula dengan bahan lainnya.

Pulung Nyepi

Hidangan khas Kelurahan Sukasada ini merupakan salah satu jajanan yang disajikan dalam tradisi umat Hindu saat Pengerupukan yaitu satu hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Bahannya terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan tepung kanji lalu dikukus, diuleni, dibentuk, kemudian direbus hingga matang, dan disajikan dengan parutan kelapa muda di atasnya.

Entil

Entil merupakan makanan tradisional masyarakat Desa Wongaya Gede yang dibuat khusus pada Hari Raya Nyepi.

Makanan ini sejenis ketupat yang dibuat dari beras kemudian dibungkus daun lalu diikat dengan bambu.

Cerorot

Cerorot merupakan jajanan kue basah yang paling disukai oleh anak-anak, karena rasanya yang manis dan bentuknya yang unik.

Cerorot memiliki bentuk yang memanjang seperti kerucut dan dibentuk dari cetakan kulit ental.

Adonan yang telah diuleni kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dikukus hingga matang.

Ayam Betutu

Ayam Betutu
Ayam Betutu (TRIBUN BALI)

Ayam Betutu merupakan makanan yang sering kali dijadikan sajian untuk acara sesembahan saat upacara keagamaan umat Hindu.

Ayam Betutu diolah dengan cara dipanggang dalam api sekam.

Ayam Betutu ini merupakan masakan kebanggaan dan khas masyarakat Bali. (TribunJakarta.com Erlina F Santika/TribunBali.com I Gede Agung Yudana/Tribunnews.com Bunga)

Penulis: Erlina Fury Santika
Editor: Ilusi Insiroh
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved