Breaking News:

Satu Orang Warga DKI Meninggal Dunia Akibat DBD

Widyastuti menyebutkan, bahwa korban meninggal dunia itu sebelumnya sudah dilarikan ke dokter praktek swasta.

Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Muhammad Zulfikar
Tribunnews.com/net
Nyamuk demam berdarah 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti, mengungkapkan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggut nyawa.

Satu orang warga Ibu kota, dinyatakan meninggal dunia akibat terjangkit penyakit tersebut.

"Meninggal di rumah sakit. Sebenarnya sudah sempat dicoba ke praktek swasta. Makanya kami sudah sampaikan dari awal melalui berbagai jalur, kalau dokternya kita melalui IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Ingatkan kembali para tenaga medis yang dibawah organisasi," kata Widyastuti, saat dikonfirmasi Rabu (13/3/2019).

Widyastuti menyebutkan, bahwa korban meninggal dunia itu sebelumnya sudah dilarikan ke dokter praktek swasta.

Namun, dengan kondisi yang sudah parah korban meninggal dunia ketika hendak dibawa ke RSUD.

"Memang ada indikasi bahwa dirawat di rumah sakit kalau jumlah trombositnya kurang dari seratus ribu. Kemarin saya diskusi dengan para klinisi, jadi jangan hanya memegang jumlah trombosit. Tapi bagaimana kondisi klinis pasien, itu sangat banyak," kata Widyastuti.

Wali Kota Jakarta Pusat Hadiri Forum Konsultasi Publik di Balai Kota

Waspada Wilayah Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Disertai Kilat dan Angin Kencang

"Manivestasi itu sangat variasinya lebar. Jadi kalau kita terpaku pada trombosit, nanti malah terlambat," tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu tak memungkiri memang ada indikasi-indikasi khusus yang menentukan salah seorang pasien harus dilarikan ke rumah sakit.

Namun mengenai pasien DBD ini, para klinisi diminta tak hanya melihat dari sisi penurunan trombosit saja, melainkan dari kondisi klinis para pasien sendiri.

"Tanda-tanda klinis itu satu tentunya kejelian kita menggali informasi dari keluarga. Memang ada beberapa yang cenderung mungkin tidak engeh mulai sakitnya kapan. Saya sampaikan, fase kritis itu di hari ke empat ke lima. Dua kemungkinan kan, panasnya sudah turun nah dikiranya sehat padahal itu bisa apakah dia mau sehat atau Syok hipovolemik jadi kurang cairan," ungkapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved