Penembakan di Selandia Baru

Cerita WNI yang Lolos dari Serangan di Masjid Selandia Baru, 5 Jam Sembunyi hingga Saling Menguatkan

Dengan penuturan yang tenang dan teratur, pria yang menekuni bidang onkologi molekuler ini memaparkan kepada BBC News Indonesia kisahnya.

Cerita WNI yang Lolos dari Serangan di Masjid Selandia Baru, 5 Jam Sembunyi hingga Saling Menguatkan
Net via Tribun Wow
Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru. 

Terus ada satu korban, remaja berusia 15 tahun. Kakinya bercucuran darah. Termasuk saya, ada tiga warga Indonesia di rumah warga tersebut.

Kami menghubungi paramedis yang datang menjemput dua korban tadi.

Kami enggak berani lihat ke luar karena kami takut terkena peluru nyasar atau kalau pelakunya mengejar sampai ke parkiran belakang.

Kami hanya mendengar polisi menyisir, di parkiran belakang.

Mereka melihat kami kemudian berteriak 'Get into the house!'

Senjata milik penembak selandia baru
Senjata milik penembak selandia baru (Istimewa)

Saya menghubungi supervisor dan KBRI. Di dalam rumah kami saling menguatkan.

Sekitar lima jam kami ada di rumah warga tersebut. Dia pria pensiunan dokter mata berusia 60-an tahun.

Selama sembunyi di rumah itu, tuan rumahnya menyalakan televisi. Kami melihat laporan berita. Wah sudah.

Memang terguncang karena teringat ada kerabat, keluarga yang jadi korban, Ada yang meninggal di dalam. Kami coba saling support.

Sekitar jam 19.00 baru kami dievakuasi sama polisi.

Saya diantarkan ke rumah, sampai di rumah jam 19.30 waktu setempat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penuturan WNI yang Lolos dari Serangan Teror di Selandia Baru"

Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved