Ahli Psikologi Forensik Buka Suara Soal Wacana Fatwa Haram PUBG, Ini Penjelasannya

Dalam kasus game online PUBG, kata Reza, stimulus tidak hanya berupa objek yang ditonton. Tapi juga objek yang berinteraksi dengan pemirsa.

Ahli Psikologi Forensik Buka Suara Soal Wacana Fatwa Haram PUBG, Ini Penjelasannya
TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino
PUBG 

TRIBUNJAKARTA.COM - Game online PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) disebut-sebut menjadi inspirasi pelaku teror dalam penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 43 orang.

Dengan alasan game online PUBG menjadi inspirasi pelaku teror tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mempertimbangkan mengeluarkan fatwa haram untuk game tersebut.

Fatwa haram untuk game online PUBG itu dimaksudkan boleh jadi untuk menghindari kekhawatiran adanya aktor-aktor pemula yang menjadi inspirasi pelaku teror di Indonesia. 

Dikabarkan MUI Jawa Barat saat ini tengah melakukan kajian mendalam untuk menjadi dasar pertimbangan dalam mengeluarkan fatwa game online PUBG tersebut.

 

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel.
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. (Tribunnews.com)

Menanggapi hal ini ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menjelaskan bahwa dalam psikologi memang ada Teori Belajar Sosial.

Yang intinya, bahwa orang dapat memunculkan atau mengubah perilaku berdasarkan apa yang dia lihat dan saksikan.

Tapi realitasnya, tidak serta-merta atau tidak semua orang yang menonton aksi teror di Selandia Baru yang oleh pelaku ditayangkan live di media sosial, melakukan perbuatan serupa.

"Itu artinya, ada faktor individual yang menjadi penentu apakah stimulasi dari game atau TV akan diduplikasi atau tidak," kata Reza kepada Warta Kota, Jumat (22/3/2019).

Salah satu faktor itu katanya adalah suggestibility. "Yakni kerentanan seseorang untuk menerima sugesti atau pengaruh," ujar Reza.

Ia menjelaskan bahwa secara klasik ada tiga kelompok manusia yang secara umum kerap dianggap punya suggestibility atau rentan saat menerima sugesti atau pengaruh.

"Yaitu orang dengan kecerdasan atau pendidikan rendah, anak-anak, dan perempuan," paparnya.

Dalam kasus game online PUBG, kata Reza, stimulus tidak hanya berupa objek yang ditonton. Tapi juga objek yang berinteraksi dengan pemirsa.

"Karena stimulasi berlangsung multi inderawi, maka masuk akal kalau ada kekhawatiran bahwa peniruan semakin potensial," kata Reza.

Faktor lainnya tambah Reza tendensi kekerasan yang sudah ada pada diri individu.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Wacana Fatwa Haram Game PUBG, Ini Kata Pakar Psikologi Forensik

Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved