Cerita Agung Penjaring Ikan di Sungai Ciliwung, Pakai Getek Pohon Pisang Hingga Tangkap 10 Kg Sehari

Lanjut Agung, usia getek pohon pisangnya terbilang tak tahan lama, dan hanya bisa digunakan dalam jangka waktu sekiranya satu minggu.

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Bermodalkan empat batang pohon pisang, Agung (46) memodifikasinya menjadi sebuah perahu kecil alias getek untuk menyusuri aliran sungai ciliwung.

Bukan tanpa tujuan, setiap hari Agung menyusuri aliran Sungai Ciliwung di untuk mencari nafkah, dengan menangkap ikan menggunakan jaring andalannya.

Setiap 10 hingga 20 meter menyusuri arus sungai, Agung pun secara sigap menebar jaringnya ke air, hingga menceburkan diri untuk memeriksa tangkapannya ke dalam air.

"Sudah lama, 10 tahun lebih kayak gini jaring ikan pakai getek pohon pisang," ujar Agung dijumpai TribunJakarta.com di bantaran Sungai Ciliwung di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3/2019).

Reaksi Anies Dicurhati Warga Soal Program OK OCE, Klaim Sandiaga hingga Penjelasan Pemprov DKI

Bergaya Bak Pilot Asli Berseragam Lengkap di Bandara Soekarno-Hatta, Pria Ini Diamankan Polisi

Lanjut Agung, usia getek pohon pisangnya terbilang tak tahan lama, dan hanya bisa digunakan dalam jangka waktu sekiranya satu minggu.

"Paling seminggu ini getek tahannya namanya gedebong pisang kan cepat rusaknya, nanti kalau rusak bikin baru lagi," tandasnya.

Setiap harinya, Agung menuturkan bisa memperoleh hingga 10 kilogram ikan dari hasil menjaring.

Biasanya, ikan yang didapatnya terdiri berbagai jenis seperti ikan lele, nila, mas, sapu-sapu, hingga ikan baung yang menjadi ikan khas Sungai Ciliwung dan Cisadane.

Selanjutnya, ikan-ikan tersebut ia jual dengan harga yang bervariatif, di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu perkilogramnya.

"Ya kadang Rp 15 kalau sapu-sapu sekilonya, kalau nila sama baung bisa Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu," tuturnya.

Namun, tak hanya ikan yang terperangkap di jaringnya, Agung kerap kali menjaring hewan sungai lainnya seperti biawak dan juga ular.

"Sering, biawak terus ular. Tapi ya dilepas lagi kan memang habitatnya, gak laku juga kalau dijual," ucap Agung dijumpai TribunJakarta.com.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved