Garuda Indonesia Berencana Pekerjakan Penyandang Down Syndrome

Sebagai tahap awal, maskapai pelat merah tersebut akan mempekerjakan dua tenaga kerja warga Indonesia yang menderita down syndrome

Garuda Indonesia Berencana Pekerjakan Penyandang Down Syndrome
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Direktur Utama PT Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra bersama delapan jajaran direksi PT Garuda Indonesia saat konferensi pers di Auditorium Garuda City Center (GCC) Garuda Indonesia Management Building, Rabu (12/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Maskapai Garuda Indonesia berinisiasi akan mempekerjakan orang berkebutuhan khusus yakni, down syndrome untuk menjadi pegawai.

Sebagai tahap awal, maskapai pelat merah tersebut akan mempekerjakan dua tenaga kerja warga Indonesia yang menderita down syndrome untuk melayani pelanggan.

"Kami sudah tawarkan bahwa mau menerima dua pegawai anak-anak berkebutuhan khusus (down syndrome). Jadi saya minta di atas usia kerja yakni 20-30 tahun kita akan pekerjakan di Garuda Indonesia," jelas Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Kamis (28/3/2019).

Pria yang akrab disapa Ari tersebut menerangkan akan menaruh dua orang penyandang down syndrome tersebut di kantor atau back office.

"Kita akan coba liat mereka bisa masuk mana, kalau tidak di airport layanan pelanggan atau kita taruh di back office," terang Ari.

Ia menambahkan, gerakan tersebut diharapkan menjadi pioner perusahaan BUMN untuk lebih memperhatikan orang sekitar yang menderita kebutuhan khusus

Walau, Ari mengakui terobosannya tersebut menjadi hal baru sekaligus tantangan baru untuk Garuda Indonesia.

Dugaan 2 Pelaku Perkosa dan Bunuh Pendeta Melinda di Palembang Karena Masalah Asmara

Kasus Ibu Bunuh Anak Dinilai Sebagai Buntut Ketimpangan Kuasa Perempuan dalam Masyarakat

Futsal Jadi Kegiatan Favorit Warga di RPTRA Radar Pembangunan Koja

Namun, ia menegaskan Garuda Indonesia akan tetap memberikan pelatihan khusus kepada calon pegawai penyandang down syndrome.

"Training khusus pasti ada, maka kita perlihatkan kalau kita care. Kita ingin membuat suatu pola bahwa saudara kita tidak bisa ditinggalkan. Pada dasarnya mereka tetap bisa berkomunikasi seperti biasa dan cenderung mengerjakan sesuatu yang berulang-ulang," ucap Ari.

Bila sukses dan lancar, Ari mengatakan tidak menutup kemungkinan akan menambah tenaga kerja penyandang down syndrome, tidak hanya dua tapi lebih.

Ia melanjutkan, ide mulai tersebut berawal dari keterpanggilan dirinya untuk memberikan kesempatan bagi warga Indonesia yang berkebutuhan khusus terutama down syndrome.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved