Kasus Ibu Bunuh Anak Dinilai Sebagai Buntut Ketimpangan Kuasa Perempuan dalam Masyarakat

Wahyuni menyebut ibu pelaku yang menyakiti anaknya merupakan korban dari ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan

Kasus Ibu Bunuh Anak Dinilai Sebagai Buntut Ketimpangan Kuasa Perempuan dalam Masyarakat
TribunJakarta.com/Novian Ardiansyah
Wakil Ketua Komnas Perempuan, Budi Wahyuni 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Lisa (23), pelaku pembunuh anaknya sendiri SH (3) dinyatakan mengidap gangguan jiwa sehingga kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Duren Sawit, Jakarta Timur dan proses hukumnya tak berlanjut.

Kasus ibu membunuh anak sudah beberapa kali terjadi di Indonesia, persoalannya masyarakat banyak menanggap pelaku merupakan orangtua tak becus, sadis, stres, dan berbagai cap negatif lain yang diberikan.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni mengatakan kasus ibu membunuh anak tak sesimpel itu karena terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di mana perempuan acapkali jadi korban laki-laki.

"Enggak sesimpel itu, mata rantai KDRT-nya luar biasa. Di tengah dia menjadi korban KDRT, kalau dilihat kekerasan itu yang cukup kuat penyebabnya adalah relasi kuasa," kata Wahyuni saat dihubungi di Jakarta Timur, Kamis (28/3/2019).

Pandangan masyarakat bahwa perempuan merupakan makhluk kelas dua membuat perempuan kerap jadi korban dalam berbagai kasus tanpa bisa melawan atau mengeluarkan emosinya.

Tumpukan masalah yang dialami itu membuat seorang ibu dapat gelap mata lalu membunuh anaknya, motifnya pun beragam dan tak bisa disamaratakan.

Merujuk pengalamannya sebagai saksi ahli di persidangan dalam perkara ibu membunuh anaknya, Wahyuni menjelaskan kecil kemungkinan seorang ibu tega menghabisi anaknya bila tak terhimpit masalah.

"Keterhimpitan dia (ibu) yang tidak bisa keluar dari masalah itu motifnya macam-macam. Daripada nanti dia (anaknya) tidak bahagia di dunia, daripada dia mendapatkan ibu tiri," ujarnya.

Wahyuni menyebut ibu pelaku yang menyakiti anaknya merupakan korban dari ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam segala ranah, baik privat atau pun publik.

Halaman
12
Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved