Perjalanan Panjang Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Sebelum menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No 1, Menteng, ini telah melalui perjalanan panjang.
Penulis: Lita Febriani | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Lita Febriani
TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Sebelum akhirnya resmi menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No 1, Menteng, Jakarta Pusat ini telah melalui perjalanan panjang.
Gedung ini dibangun pada tahun 1927 oleh arsitek Belanda J.F.L Blankenberg bergaya arsitektur Eropa (Art Deco), dengan luas tanah 3.914 m2 dan luas bangunan 1.138 m2.
Awalnya gedung tersebut digunakan sebagai kantor Konsulat Jenderal Inggris.
Tahun 1931, pemilik gedung ini atas nama PT Asuransi Jiwasraya.
Sekitar tahun 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia, gedung tersebut kemudian tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda.
Pada September 1945, usai Jepang dikalahkan sekutu, gedung ini dijadikan Markas Tentara Inggris.
"Setelah Indonesia merdeka gedung ini pernah dijadikan Markas Militer Inggris. Kemudian di kontrak 20 tahun sebagai kantor Kedutaan Inggris, pernah jadi perpustakaan nasional," ungkap Wahyuni, Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi kepada TribunJakarta.com, Rabu (3/4/2019).
Gedung ini baru menjadi Museum Naskah Proklamasi pada 24 November 1992 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992.
• Mengingat Jejak Perjuangan Kemerdekaan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi
• Melihat Sepak Terjang Kekejaman PKI di Museum Pengkhianatan PKI dan Museum Paseban
Gedung ini menjadi sangat penting untuk bangsa Indonesia sebab pada tanggal 16 - 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa bersejarah di dalamnya.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 terjadi perumusan naskah proklamasi untuk kemerdekaan Indonesia.
"Gedung ini dijadikan museum karena peristiwa penting di dalamnya mengenai perumusan naskah proklamasi tanggal 16 agustus 1945. Selain itu ada peristiwa penting lainnya yaitu peristiwa perundingan yang terjadi antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi oleh Inggris waktu itu pada tahun 1946," ungkap wanita yang akrab disapa Yuni tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/museum-perumusan-naskah-proklamasi-3.jpg)