Mengenang Ade Irma di Museum Sasmitaloka Jenderal Besar A. H Nasution

Guna mengenang peristiwa gugurnya Ade Irma dan mengingat peristiwa penyergapan, rumah kediaman A.H Nasution dijadikan museum.

Penulis: Lita Febriani | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/LITA FEBRIANI
Baju yang pernah dikenakan Ade Irma Suryani dipajang di Museum Jenderal Besar A.H Nasution, Jumat (5/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Lita Febriani

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Gugur sebagai perisai sang ayah, Ade Irma Suryani harus meregang nyawa pada peristiwa penyergapan Cakrabirawa ke kediaman Jenderal A.H Nasution.

Peristiwa penyergapan tersebut terjadi pada 30 September 1965 atau yang biasa disebut Peristiwa G30S PKI.

Guna mengenang peristiwa gugurnya Ade Irma Suryani dan mengingat peristiwa penyergapan, rumah kediaman A.H Nasution dijadikan museum.

Rumah yang terletak di Jalan Teuku Umar No 40, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat dijadikan museum sejak 3 Desember 2008.

Rumah kediaman AH Nasution yang dijadikan museum, Jumat (5/4/2019).
Rumah kediaman AH Nasution yang dijadikan museum, Jumat (5/4/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/LITA FEBRIANI)

Di Museum Sasmitaloka Jenderal A.H Nasution dipamerkan berbagai macam barang peninggalan keluarga sang Jenderal.

Mulai dari koleksi buku, baju, tongkat komando, senjata, tempat tidur, kursi yang biasa digunakan untuk menerima tamu kehormatan hingga berbagai macam penghargaan kepada A.H Nasution dipamerkan di sini.

Yang cukup menarik dari museum ini ialah baju yang pernah dipakai Ade Irma saat peristiwa memilukan itu terjadi.

Saat penyergapan, ada 6 peluru yang bersarang di tubuh kecil gadis berusia 5 tahun tersebut.

Rumah kediaman AH Nasution yang dijadikan museum, Jumat (5/4/2019).
Rumah kediaman AH Nasution yang dijadikan museum, Jumat (5/4/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/LITA FEBRIANI)

"Dari cerita ibu Nasution waktu itu ada 6 peluru. Pertama mengenai tangan kiri Bu Mardiyah dulu saat dia buka pintu, tembus ke tulang belakang Ade Irma. Tangan kanan buka kunci, tangan kiri megang Ade," tutur Sersan Mayor Royen Suryanto, petugas museum kepada TribunJakarta.com, Jumat (5/4/2019).

Ade Irma sendiri sempat kritis selama lima hari hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 6 Oktober 1965.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved