Kronologi Pria di Yogya Jadi Korban Kawin Paksa: Gugatan Cerainya Dikabulkan: Gara-gara Beli Suvenir

Peristiwa kawin paksa ini terjadi Wonosari, Yogyakarta, diketahui sang pria kini sudah mengajukan gugatan cerai pada istrinya itu

Kronologi Pria di Yogya Jadi Korban Kawin Paksa: Gugatan Cerainya Dikabulkan: Gara-gara Beli Suvenir
Surya Malang/ Tribun
kawin paksa di Wonosari 

Perlahan, dia melepas peralatan keamanan untuk prosesi akad nikah di atas pohon seperti harnes dan helm.

“Lega sekali, dan tentu senang. Malah sangat senang karena akad nikah dilakukan dengan cara seperti ini,” kata Sugiman pada Tribunjogja.com.

Pria asal Cangkringan, Sleman ini mengaku ikut program menikah dengan cara yang unik tersebut dari internet.

Sebenarnya masih ada lokasi untuk proses akad nikah lain, seperti di sungai dengan naik perahu, gubug pohon bambu, dan naik hammock.

Karena yang tersisa hanya prosesi di atas pohon, Sugiman memilihnya.

“Yang naik kapal sudah ada, hammock dan gubug pohon bambu sudah ada. Tinggal di atas pohon ini.”

“Jadi ya pilih saja. Lumayan deg-degan soalnya saya belum pernah naik flying fox.”

“Apalagi harus memanjat pohon pakai peralatan memanjat seperti itu.”

“Tapi sekarang sudah lega. Semua berjalan lancar,” kata Sugiman.

Sementara sang istri, Siti Nur Khasanah juga tampak berseri usai prosesi akad nikah selesai dilakukan.

Berbeda dengan Sugiman, butuh perjuangan lebih bagi Siti mengikuti prosesi ini.

Ya, gaun yang ia kenakan membuatnya harus ekstra hati-hati supaya tidak menyangkut di tali yang dipakai untuk flying fox.

Sama seperti Sugiman, Siti juga kali pertama ini naik flying fox.

Ketua Umum Golkar Targetkan 40 Juta Suara Buruh Dukung Jokowi-Maruf

Massa Kampanye Prabowo-Sandi Bubuar, Jalan Asia Afrika Menuju Slipi dan Palmerah Padat Merayap

Masyarakat Nobar Kampanye Akbar Prabowo-Sandi di Kawasan Zona 11 SUGBK

Dia mengaku sedikit tegang.

Saking tegangnya, dia harus beristirahat cukup lama di atas alas papan kayu selesai melakukan flying fox.

Kakinya dan pinggangnya terasa kaku, seusai turun dari flying fox.

Sekitar lima menit istirahat di papan kayu, Siti bisa turun.

“Iya tadi kram kaki saya. Mungkin karena tegang ya.”

“Soalnya tadi lumayan tinggi dan papan di atas agak goyang.”

“Tapi saya lega sekali semua berjalan lancar dan saya resmi menjadi istri Mas Sugiman.”

“Semoga dari doa warga dan semua yang datang ke acara ijab kabul ini membuat pernikahan saya langgeng,” kata Siti.

Ketua Pelaksana Ijab Kabul unik, Ryan Budi Nuryanto mengatakan acara digelar sebagai paket acara Nikah Bareng Pemilu Damai 2019 dan Peresmian Taman Tempuran Cikal.

Kegiatan yang juga dihadiri Bupati Bantul, Suharsono ini digelar dalam menyambut Hari Air Se-Dunia dan Sambut Pemilu 2019.

Kegiatan ini sekaligus menjadi event nikah yang ke-35 dari Forum Ta’Aruf Indonesia (Fortais).

Dukungan penuh diberikan oleh sejumlah elemen seperti SAR DIY, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirto Girimulyo Piyungan, HARPI Melati Bantul, Pita Biru Production dan berbagai pihak lainnya.

“Kami usung tema Unity in Diversity, yang dimaknai sebagai persatuan dalam perbedaan.”

“Karena banyak elemen berbeda dalam kegiatan ini saling bekerjasama demi satu tujuan. Yaitu menggelar acara nikah bareng sembari mengajak masyarakat menjaga sumber daya air sembari dan ikut mensukseskan Pemilu,” kata Ryan.

Selain Sugiman dan Siti Nur Khasanah, masih ada enam pasangan yang juga dinikahkan.

Mereka adalah pasangan Utomo - Sri Mujiati, Nurahman Popo - Dian Yulistianti, Yuswantoro - Ida Satriani, Dwi Riyanto - Sudarmi Dyah Wulandari dan Bejo Ismaryono - Melani Praptiningsih.

Uniknya, lima pasangan juga menjalani ijab kabul dengan cara unik.

Seperti Nurahman - Dian yang menjalani ijab kabul dengan naik hammock di atas pohon.

Utomo - Sri di gubug yang ada di atas pohon terbuat dari bambu sampai Dwi Riyanto - Sudarmi yang melakukan ijab kabul di atas speed boat.

Meski dikemas dengan cara nyeleneh dan lain dari biasanya, Ryan memastikan prosesi ijab kabul sudah sesuai aturan karena dihadirkan penghulu, saksi dan semua persyaratan telah dipenuhi dan disetujui oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Bahkan lebih dari acara ijab kabul, acara ini punya banyak pesan mendalam.

“Kami ingin mewujudkan sakinah, sejahtera dan membawa keberkahan untuk Indonesia. Tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada.”

“Selain, juga mengajak masyarakat punya peran aktif menjaga air sebagai sumber daya alam, berperan dalam pemilu dan dalam upaya promosi spot wisata di Bantul,” kata Ryan.

(Raras Cahyaning Hapsari)

Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Kronologi Pria di Wonosari Jadi Korban Kawin Paksa, Dompetnya Direbut dan Motornya Ditahan

Editor: Erik Sinaga
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved