Lion Air JT610 Jatuh

Ahli Waris Korban JT 610 Belum Terima Kompensasi, Merdian: Kami Bingung, Frustasi, Letih

sebagian ahli waris dari korban kecelakaan itu mengaku masih belum mendapat kompensasi dari Lion Air.

Ahli Waris Korban JT 610 Belum Terima Kompensasi, Merdian: Kami Bingung, Frustasi, Letih
TribunJakarta.com/Yanuar Nurcholis Madjid
Keluarga penumpang Lion Air melihat lokasi jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Tanjung Karawang dari buritan KRI Banda Aceh, Selasa (6/11/2018). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) Boeing, Dennis Muilenburg menyatakan permohon maaf atas tewasnya 346 korban kecelakaan Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air di Indonesia dan Ethiopian Airlines di Ethiopia.

Melalui pernyataan tertulis pada Kamis (4/4/2019) lalu, Boeing untuk pertama kalinya mengakui adanya dugaan kesalahan pada sistem anti-stau pada Boeing 737 MAX 8 dan meminta maaf kepada keluarga korban.

Menanggapi hal tersebut, beberapa keluarga korban Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 tetap melanjutkan gugatan ganti rugi kepada produsen pesawat asal Amerika Serikat itu.

Denny Kailimang pendiri Kantor Advokat Kailimang & Ponto yang menjadi kuasa hukum sejumlah keluarga korban Lion Air JT 610 mengatakan, permintaan maaf dan pernyataan pertanggungjawaban Boeing dapat menjadi langkah lanjutan untuk membuka lebih jelas latar belakang terjadinya kecelakaan dan mencegah kejadian serupa terjadi di masa yang akan datang.

"Pernyataan CEO Boeing juga memperkuat hak-hak keluarga korban untuk memperoleh ganti kerugian yang pantas dari produsen pesawat," kata Denny saat menggelar jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Untuk memperjuangkan hak-hak keluarga korban Lion Air JT 610, Kantor Advokat Kailimang & Ponto bergabung bersama kelompok Advokat di Amerika Serikat untuk menggugat Boeing Company.

Kelompok kuasa hukum para penggugat terdiri dari Brian S. Kabateck dari Kabateck LLP, Los Angeles, Steven Hart dari firma asal Chicago, Hart McLaughlin & Eldridge, serta Sanjiv Singh dari kantor hukum Sanjiv N. Singh dan Michael lndrajana dari kantor hukum lndrajana Law Group, keduanya dari San Mateo, California. Hingga saat ini, terdapat 60 ahli waris korban Lion Air JT 610 yang mengajukan gugatan kepada Boeing.

"Boeing perlu segera menyelesaikan klaim dari keluarga. Keluarga yang terluka karena kehilangan orang-orang terkasih, kehilangan ibu, ayah, dan anak mereka dengan cara yang paling mengerikan. Boeing seharusnya bekerjasama dengan semua yang terlibat untuk menyelesaikan masalah ini sekarang,” kata Brian Kabateck.

Menurut Sanjiv Singh, kuasa hukum lainnya, mengatakan permintaan maaf CEO Boeing belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah litigasi bencana penerbangan. Ia pun meminta Boeing memberikan kompensasi kepada keluarga korban.

Sanjiv Singh juga menyatakan "Kerugian dari kematian orang Indonesia harus ditakar secara sama dengan kerugian dari kematian orang Amerika yang meninggal di Ethiopia Airlines. Ini bisa terjadi kalau keluarga korban dari Indonesia ikut bergabung menuntut Boeing di Amerika Serikat.

Halaman
123
Penulis: MuhammadZulfikar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved