Penganiayaan Siswi SMP

Arist Merdeka: Hukuman Penganiaya Siswi SMP Bisa Sanksi Sosial, Minta Maaf Diikuti Cium Kaki Korban

"Pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban dihadapan orangtua dan penegak hukum, misal minta maaf dan diikuti dengan mencium kaki korban," kata

Arist Merdeka: Hukuman Penganiaya Siswi SMP Bisa Sanksi Sosial, Minta Maaf Diikuti Cium Kaki Korban
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Kapolda Kalimantan Barat Irjen Didi Haryono saat menjenguk korban dan ibu korban di Rumah Sakit Promedika Pontianak, Jalan Gusti Sulung Lelanang, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/4/2019) siang. Kapolda memastikan berdasarkan pemeriksaan kesehatan tidak ada kerusakan pada bagian vital korban seperti yang viral di media sosial. 

TRIBUNJAKARTA.COM, BANTARJATI - Aksi persekusi yang dilakukan 12 orang siswi SMA secara bergerombol terhadap seorang siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat mendapat kecaman berbagai kalangan.

Pasalnya penganiyaan, perundungan, persekusi diikuti kekerasan seksual yang dilakukan 12 geng siswi ini tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia lagi.

Mengingat pelaku masih dalam status usia anak dan dalam perspektif perlindungan anak masih memerlukan perlindungan, sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Distim Peradilan Pidana Anak (SPPA), junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tetang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perindungan Anak.

Ketua umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mendorong penegak hukum dalam Polresta Pontianak yang menangani perkara penganiayaan dan perundungan terhadap siswi ini menggunakan pendekatan keadilan restoratif dalam proses penyelesaiannya.

Menurutnya, dengan pendekatan keadilan restoratif tersebut selain meminta pertangungjawaban hukum para pelaku atas tindakan pidananya, pihak kepolisian Polresta  Pontianak juga bisa menggunakan pendekatan "diversi" terhadap pelaku.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait saat ditemui wartawan, Pancoran Mas, Depok, Jumat (8/6/2018). 
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait saat ditemui wartawan, Pancoran Mas, Depok, Jumat (8/6/2018).  (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Menurutnya, hukuman yang diberikan berupa sanksi tindakan seperti sanksi sosial guna memulihkan harkat dan harga diri korban yang telah dilecehkan dan berdampak efek jera.

"Misalnya dengan cara para pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban dihadapan orangtua dan penegak hukum, misal minta maaf dan diikuti dengan mencium kaki korban," kata Arist Merdeka Sirait dalam keterangan yang diterima wartawan, Rabu (10/4/2019).

Menurutnya, peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh kita semua orangtua, masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintah termasuk alim ulama.

"Ada apa dengan keluarga dan lingkungan, karena munculnya perilaku dan perbuatan sadis ini tidak berdiri sendiri. Bisa saja karena terinpirasi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya atau terinpirasi tayangan-tayangan yang tidak edukatif. Sebab dunia anak adalah meniru yang ada disekitarnya," kata Arist.

Dirinya mendorong, Polresta Pontianak bekerja keras mengungkap dan menangani kasus kekerasan ini.

Halaman
1234
Penulis: wahyu tribun jakarta
Editor: Erlina Fury Santika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved