Pihak Sekolah Sudah Lakukan Upaya Maksimal Untuk Selamatkan Gaby

Harry mengungkapkan, sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa Gaby, pihak sekolah langsung mendatangi orangtuanya dan meminta maaf

Pihak Sekolah Sudah Lakukan Upaya Maksimal Untuk Selamatkan Gaby
KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR
Ronaldo Latturette, terdakwa dalam kasus meninggalnya Gabriella Sheryl Howard (8), murid kelas III SD di Global Sevilla School usai diputus bebas oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (28/11/2017). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Mantan guru sekolah Global Sevilla School Ronaldo Latturette, memastikan bahwa pihak sekolah telah berusaha secara maksimal untuk memberikan pertolongan kepada Gabriella Sheryl Howard (Gaby), murid kelas III SD yang meninggal akibat kecelakaan tenggelam di kolam renang sekolah pada 17 September 2015.

"Kami telah berjuang dan berusaha menyelamatkan nyawa Gaby yang saat itu ditemukan sudah tenggelam di kolam renang. Proses pertolongan pertama hingga dibawa ke rumah sakit Pondok Indah Kembangan dilakukan secara cepat. Kami juga sangat sedih dan kehilangan atas meninggalnya Gaby," kata Harry Sitorus, Kuasa Hukum Ronaldo Latturette melalui keterangan tertulisnya terkait gugatan perdata yang dilayangkan orangtua Gaby, Jumat (12/4/2019).

Sebelumnya orangtua Gaby melayangkan gugatan perdata senilai Rp 302 miliar terkait kematian anaknya itu. Sidang pertama gugatan ini dilangsungkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat pada 9 April 2019.

Lebih lanjut Harry mengungkapkan, sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa Gaby, pihak sekolah langsung mendatangi orangtuanya dan meminta maaf. Sebagai bentuk tanggungjawab dan rasa duka, pihak sekolah membantu seluruh biaya rumah sakit dan biaya pemakaman Gaby di San Diego Hills. 

"Pak Ronaldo juga sudah menyampaikan permintaan maaf kepada orangtua Gaby. Saat sidang tanggal 22 Maret 2015 pak Ronaldo bahkan bersimpuh didepan orangtua Gaby untuk minta maaf," ujar Harry.

Dalam persidangan di tingkat pertama terungkap bahwa Gaby ditemukan tenggelam ketika sedang dilakukan pengambilan nilai renang kelas III. Sesuai SOP kelas renang, pengambilan nilai dilakukan berurutan, satu per satu siswa masuk ke kolam renang. Siswa yang belum mendapat giliran tidak boleh masuk kolam. Gaby sendiri diketahui sudah bisa berenang, karena mengikuti les renang diluar jam sekolah.

Dalam prosesnya 4 siswa, termasuk Gaby, nekat mencebur ke kolam meski belum mendapat giliran mengambil nilai. Ronaldo sebagai guru renang lantas meminta empat anak yang masuk kolam untuk naik. Tapi ke empat anak itu kembali turun ke kolam. Ronaldo sampai 3 kali memberi peringatan agar mereka kembali naik dari kolam untuk menunggu giliran penilaian.

"Sebelum kecelakaan  terjadi pada Gaby, guru Ronaldo sudah 3 kali memberi peringatan agar anak-anak yang masih dikolam naik keatas. Artinya guru tetap memberi pengawasan secara ketat selama pengambilan nilai renang berlangsung," ujarnya.

Bebas Murni
Setelah mendengarkan keterangan para saksi dalam persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri  (PN) Jakarta Barat memutuskan bahwa Ronaldo tidak bersalah dalam peristiwa kecelakaan ini.

"Mengadili, menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diberitakan penuntut umum, membebaskan terdakwa dari dakwaan," kata Ketua Majelis Hakim Matauseja Erna Marylin (28/11/2017).

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai tidak ada saksi yang bisa membuktikan Ronaldo berbuat lalai.

Namun sikap berbeda diambil oleh Mahkamah Agung (MA). Setelah menerima  kasasi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), pada 25 September 2018 majelis hakim kasasi yang terdiri dari Hakim Agung Margono, dan Wahidin, Andi Abu Ayyub Saleh menghukum Ronaldo pidana 5 bulan dengan masa percobaan 10 bulan.

Penjelasan Polisi Terkait Tabrakan Beruntunc di Tol Jakarta-BSD yang Tewaskan 1 Orang

Menteri Hanif Dhakiri Targetkan 8 Hingga 10 Kursi PKB di DPRD Kota Depok

Satu Korban Tewas Tabrakan di Tol BSD Terjepit Kopling Dievakuasi Ekskavator, Sang Suami Menangis

Dalam putusannya, Majelis Hakim Kasasi menilai Ronaldo telah melakukan kelalaian yang menyebabkan terjadinya kecelakaan terhadap Gaby. Namun  putusan itu tak mengharuskan Ronaldo menjalani pidana penjara. Pidana 5 bulan baru berlaku jika dalam kurun 10 bulan ia melakukan tindak pidana lagi.

"Jujur kami kaget dan prihatin dengan putusan ini (kasasi). Fakta-fakta persidangan jelas bahwa ini murni kecelakaan dan Ronaldo sebagai guru juga sudah menjalankan SOP. Tapi sebagai warga negara Ronaldo akan tetap patuh dan menghormati setiap putusan hukum," tegas Harry.

Terkait gugatan perdata dari orangtua Gaby, Harry tidak ingin berspekulasi. "Kami akan mengikuti proses hukum. Yang dapat kami pastikan, dalam kecelakaan ini Ronaldo sudah melakukan usaha terbaik menyelamatkan Gaby dan telah menjalankan SOP kelas renang yang harusnya dipatuhi seluruh siswa," imbuhnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved