Breaking News:

Minim Persiapan, Bilik Suara untuk Pemilih Gangguan Jiwa Terbuat dari Kardus Bekas

"Persiapannya enggak kurang, kita sampe buat bilik sendiri, sampe tinta aja kita pakai tinta kantor yang biasa buat isi ulang spidol," kata Jajat.

TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Pemilih orang dengan gangguan jiwa di Yayasan Galuh Bekasi menggunakan gak suara di Pemilu 2019 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, RAWALUMBU - Ketua Perawat panti rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa Yayasan Galuh Bekasi, Jajat Sudrajat menilai, persiapan pemungutan suara untuk pemilih disabilitas mental kurang memadai.

Hal ini terlihat ketika petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) datang ke Yayasan Galuh untuk menjeput bola pemilih disabilitas mental tanpa logistik yang lengkap.

Seperti bilik suara misalnya, pihak Yayasan Galuh terpaksa membuat bilik suara untuk proses pencoblosan dengan memanfaatkan kardus bekas. Ditambah lagi tidak tersedianya tinta untuk pemilih.

"Persiapannya enggak kurang, kita sampe buat bilik sendiri, sampe tinta aja kita pakai tinta kantor yang biasa buat isi ulang spidol," kata Jajat.

Disamping itu, kesulitan lain yang harus dihadapi yakni selama ini, KPU Kota Bekasi tidak pernah melakukan simulasi pemungutan suara kepada pemilih disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa.

Alhasil, sebelum memulai pencoblosan, petugas Yayasan Galuh sempat melakukan simulasi dan memperkenalkan jenis-jenis surat suara kepada pemilih disabilitas mental.

"Karena enggak pernah dapat simulasi, kita tadi sebelum mulai kasi unjuk dulu kenalin surat suaranya, cara nyoblosnya, sampai melipat kertasnya," jelas dia.

Antusias Pemilu, Pasien Asal Batam Ini Mencoblos di TPS Tambahan RSCM

PT Wika Realty Buka Lowongan Kerja 5 Posisi Jabatan untuk Lulusan S1, Intip Syarat & Cara Daftarnya!

TPS Unik di Lubang Buaya Jaktim, Petugas KPPS Pakai Kostum Wayang

Adapun di Yayasan Galuh terdapat 16 pemilih yang telah menggunakan hak suaranya. Namun sebelumnya, sebanyak 40 pemilih terdata mendapatkan A5 dan surat keterangan (suket) KTP.

"Kalau yang dapat suket sama A5 banyak, tapi yang bener-bener bisa milih tadi cuma 16 orang," jelas dia.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved