Pemprov DKI Perketat Pengunaan Air Tanah, Pelanggan PT Palyja di Kawasan Bisnis Naik 6 Persen

Nancy Manurung menyebut, ada kenaikan jumlah pengguna air pipa di kawasan tersebut sejak peraturan tersebut diberlakukan.

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM - Sejak tahun 2018, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai memperketat penggunaan air tanah di gedung-gedung tinggi.

Imbasnya, banyak perusahaan di kawasan bisnis segitiga emas, yaitu Jalan M. H Thamrin-Jalan Jenderal Sudirman (Utara-barat Daya), Jalan H. R. Rasuna Said (Utara-Tenggara), dan Jalan Jenderal Gatot Subroto (Timur-Barat) yang mulai beralih menggunakan air pipa.

Direktur Customer Service Operations PT Lyonnaise Jaya (Palyja) Nancy Manurung menyebut, ada kenaikan jumlah pengguna air pipa di kawasan tersebut sejak peraturan tersebut diberlakukan.

"Setelah ada penertiban penggunaan air tanah di kawasan segitiga emas penggunaan air perpipaan naik enam persen," ucapnya kepada wartawan, Jumat (26/4/2019).

Meski demikian, Nancy menjelaskan, gedung-gedung tinggi di kawasan segitiga emas tersebut tidak bisa sepenuhnya beralih menggunakan air perpipaan.

Pasalnya, berdasarkan studi yang telah dilakukan, rata-rata gedung-gedung tinggi di kawasan segitiga emas membutuhkan air bersih sebanyak 100 ribu kubik per tahun.

"Mereka enggak bisa beralih ke air perpipaan seluruhnya secara langsung, tetap masih butuh air tanah sebagai back up," ujarnya.

Meski demikian, Nancy mengaku siap apabila pengelola gedung-gedung tinggi di wilayah segitiga emas tersebut ingin beralih sepenuhnya menggunakan air perpipaan.

Ia menambahkan, selama ini gedung-gedung di kawasan tersebut masih banyak menggunakan air tanah daripada perpipaan lantaran tidak ada regulasi yang tegas melarangnya.

Minim Pasokan Air Baku, PT Palyja Kesulitan Distribusikan Air Bersih ke Jakarta Barat

Sungai Cikeas Meluap, Banjir Genangi Perumahan Puri Nusaphala Bekasi

Suzuki Jimny Dibanderol Mulai dari Rp 270 Juta

Selama ini, regulasi yang ada masih memperbolehkan penggunaan air tanah sebagai sumber air cadangan.

"Memang, peraturannya tidak mengharuslan swict langsung ke air perpipaan, mereka tetap boleh menggunakan air tanah sebagai back-up," kata Nancy.

Sementara itu, Prisident Director PT Palyja Robert Rerimassie mengatakan, jumlah pelanggan air perpipaan pada tahun 2018 lalu mencapai 406.801 pelanggan.

Jumlah pelanggan terbanyak ialah kelompok rumah tangga mewah dan usaha menengah serta kelompok rumah tangga sederhana.

"Kelompok rumah tangga mewah dan usaha menengah meningkat 147,47 persen atau dari 51.988 pelanggan menjadi 128.656 pelanggan," ucapnya.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved