Jabodetabek Banjir

Rumahnya Hancur Berantakan Diterjang Banjir, Warga Balekambang Sebut Banjir Tahun ini Berbeda

Meski bukan kejadian pertama, warga mengaku heran karena rusaknya rumah akibat terpaan arus banjir selalu terjadi saat siklus banjir lima tahunan.

Rumahnya Hancur Berantakan Diterjang Banjir, Warga Balekambang Sebut Banjir Tahun ini Berbeda
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Atap rumah Rubiyati (54) yang rusak diterjang banjir di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Sedikitnya tiga rumah warga RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati rusak parah diterjang banjir luapan Sungai Ciliwung pada Jumat (26/4/2019).

Meski bukan kejadian pertama, warga mengaku heran karena rusaknya rumah akibat terpaan arus banjir selalu terjadi saat siklus banjir lima tahunan berlangsung.

Rubiyati (54), satu warga RW 05 yang bagian belakang dan jendela depan rumahnya hancur mengatakan banjir terakhir yang merusak rumah warga terjadi pada tahun 2018.

"Biasanya banjir tinggi sampai tiga meter atau lebih itu setiap lima tahun sekali, tapi ini baru setahun sudah banjir parah. Tahun ini agak berbeda, ada beberapa rumah warga yang rusak," kata Rubiyati di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019).

Rubiyati mengaku sadar siklus banjir lima tahunan tak sepenuhnya benar, namun pengalaman sebagai korban banjir selama puluhan tahun membuatnya ingat kapan banjir terburuk berlangsung.

Menurutnya di luar siklus banjir lima tahunan ketinggian air yang menjamah permukiman warga hanya mencapai ketinggian sekitar satu meter.

Banjir di Bidara Cina, Sebagian Warga Pilih Berdiam di Atap Rumah, Ini Foto dan Videonya

"Saya sudah 28 tahun tinggal di sini, biasanya banjir paling parah itu kejadian ada jedanya, sekitar lima tahun sekali. Ini baru satu tahun saja sudah banjir parah lagi," ujarnya.

Tak hanya Rubiyati, Irda Yunita (34) yang kerusakan rumahnya paling parah karena bagian atap, tembok ruang keluarga, dan tembok berikut jendela depan hanyut diterjang banjir juga mengaku heran.

Pasalnya pada 2018 banjir luapan Sungai Ciliwung sudah menghancurkan seluruh tembok bagian ruang keluarga, namun baru satu tahun musibah kembali terulang.

Atap rumah Husaini yang hanyut diterpa banjir di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019).
Atap rumah Husaini yang hanyut diterpa banjir di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Siklus lima tahunan banjir juga lah yang membuatnya betah bermukim di bibir Sungai Ciliwung meski sudah merogoh banyak uang untuk memperbaiki kerusakan rumah.

"Saya kira banjir parah itu cuma lima tahunan sekali. Ini tembok yang bolong baru diperbaiki karena tahun lalu juga hancur, tapi sekarang malah rusak lagi. Untung sebelum air naik keluarga saya sudah ngungsi," tutur Irda.

Senada dengan dua tetangganya, Rista (39) yang pintu rumahnya ringsek dihantam banjir membenarkan bila banjir parah umumnya terjadi dalam kurun waktu sekitar lima tahun.

Rista mencontohkan satu rumah warga di RW 05 yang tahun lalu bagian belakangnya hanyut diterjang banjir dengan ketinggian lebih dari empat meter.

"Memang biasanya banjir parah itu kejadian sekitar lima tahun sekali, tapi ini baru jeda satu tahun sudah parah. Kalau warga kemarin telat ngungsi pasti hanyut," ucap Rista.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved