Tergenang Banjir Nyaris 3 Meter, Atap Hingga Jendela Rumah Warga Balekambang Penuh Sampah

Ira (23), warga RW 05 lainnya menuturkan proses bersih-bersih yang dilakukan warga berlangsung lama karena mereka tak memiliki pompa air.

Tergenang Banjir Nyaris 3 Meter, Atap Hingga Jendela Rumah Warga Balekambang Penuh Sampah
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Sampah yang hinggap di atap dan ventilasi rumah warga Kelurahan Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Warga RW 05 merupakan satu dari permukiman di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur yang terdampak banjir luapan Sungai Ciliwung paling parah sejak Jumat (26/4/2019) dan baru surut pada Minggu (28/4/2019).

Dampak ketinggian air yang nyaris mencapai tiga meter tak hanya membuat warga kelabakan membersihkan timbunan lumpur yang tingginya mencapai sekitar 30 sentimeter.

Rubiyati (54), satu warga RW 05 mengatakan sampah yang bertengger di atap, dsn ventilasi rumah pun membuat proses bersih-bersih yang dilakukan warga berlangsung lama.

"Sampahnya sampai ke atap. Jadi selain nyangkut di pohon, sampah banyak nyangkut di rumah warga. Sampai hari ini bersih-bersih rumah masih belum beres," kata Rubiyati di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019).

Merujuk pengalamannya sebagai korban banjir selama puluhan tahun, Rubiyati menuturkan setidaknya butuh waktu satu pekan untuk membersihkan seluruh lumpur dan sampah.

Namun karena banjir tahun ini terbilang parah hingga merusak rumah, dia menyebut butuh waktu sekitar dua pekan bila ingin benar-benar membersihkan timbunan lumpur dan sampah.

Warga RW 05 Kelurahan Balekambang saat membersihkan timbunan lumpur di rumahnya, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019)
Warga RW 05 Kelurahan Balekambang saat membersihkan timbunan lumpur di rumahnya, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019) (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

"Mungkin bisa sampai dua minggu ya baru bersih, karena lumpur di dalam rumah saja belum bersih. Kemarin PPSU sama Pemadam ikut bantu bersihin, tapi cuman yang di jalan doang," ujarnya.

Ira (23), warga RW 05 lainnya menuturkan proses bersih-bersih yang dilakukan warga berlangsung lama karena mereka tak memiliki pompa air untuk menyemprot lumpur.

Iritasi kulit, pegal linu, serta penyakit lain yang menjangkiti tubuh warga dan ketiadaan pasokan obat yang cukup dari pihak Puskesmas turut menghambat proses bersih-bersih warga.

"Gimana mau bersihin kalau kita sendiri saja gatal-gatal dan pegal linu, obat dari Puskesmas enggak cukup untuk semua warga. Kalau ada pompa air sih mendingan," tutur Ira.

Pantauan TribunJakarta.com, mayoritas rumah warga masih tergenang lumpur tebal sementara di bagian atap dan ventilasi rumah berbagai jenis sampah tampak bergelayutan.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved