Jabodetabek Banjir

Mintarsih Sebut Banjir Tahun Ini Paling Buruk Selama Jabat Lurah Balekambang

Mintarsih menyebut banjir yang melanda wilayah RW 05 merupakan yang terparah selama dua tahun menjabat sebagai Lurah Balekambang.

Mintarsih Sebut Banjir Tahun Ini Paling Buruk Selama Jabat Lurah Balekambang
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Prmukiman warga di RW 05 Kelurahan Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Mintarsih menyebut banjir yang melanda wilayah RW 05 sejak Jumat (26/4/2019) pagi lalu merupakan yang terparah selama dua tahun menjabat sebagai Lurah Balekambang.

Tak hanya karena ketinggian air yang nyaris mencapai tiga meter dan baru sepenuhnya surut pada Minggu (28/4/2019), Mintarsih menuturkan lumpur yang terbawa arus terbilang tinggi.

"Saya sudah dua tahun menjabat sebagai Lurah di Balekambang, banjir sekarang paling parah. Lumpurnya banyak, ketinggian air juga tinggi," kata Mintarsih di Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/4/2019).

Akibat banjir Jumat lalu, Mintarsih menuturkan sebanyak 252 warga dari RW 05 yang permukimanya terletak dekat Sungai Ciliwung terpaksa mengungsi.

Tak sampai di situ, banjir juga membuat sedikitnya tiga rumah warga di RW 05 rusak parah sementara sejumlah rumah lainnya mengalami kerusakan kecil.

"Untuk berapa rumah yang rusak masih didata, sekarang belum ada bantuan perbaikan rumah. Tapi nanti diajukan ke Baziz (Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh) untuk mendapat bantuan bedah rumah," ujarnya.

Sebelumnya, warga RW 05 mengaku heran dengan banjir yang menjamah permukiman mereka karena terjadi bukan saat siklus banjir lima tahunan berlangsung.

Tergenang Banjir Nyaris 3 Meter, Atap Hingga Jendela Rumah Warga Balekambang Penuh Sampah

Rumahnya Hancur Berantakan Diterjang Banjir, Warga Balekambang Sebut Banjir Tahun ini Berbeda

Rubiyati (54), satu warga RW 05 mengaku sadar siklus banjir lima tahunan tak sepenuhnya benar, namun pengalaman sebagai korban banjir selama puluhan tahun membuatnya ingat kapan banjir terburuk berlangsung.

Menurutnya di luar siklus banjir lima tahunan ketinggian air yang menjamah permukiman warga hanya mencapai ketinggian sekitar satu meter.

"Saya sudah 28 tahun tinggal di sini, biasanya banjir paling parah itu kejadian ada jedanya, sekitar lima tahun sekali. Ini baru satu tahun saja sudah banjir parah lagi," tutur Rubiyati.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved