Kasus Korupsi

Penjelasan Polda Metro Jaya Kasus Dugaan Korupsi Nur Mahmudi yang Belum Dibawa ke Meja Hijau

"Tetap koordinasi sama KPK, sama Mabes (Polri) juga," kata Argo kepada wartawan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/4/2019).

Penjelasan Polda Metro Jaya Kasus Dugaan Korupsi Nur Mahmudi yang Belum Dibawa ke Meja Hijau
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di RS Polri Kramat Jati, Selasa (30/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Dua tersangka korupsi pembebasan lahan Jalan Nangka yakni bekas Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan Sekretaris Daerah Harry Prihanto yang diduga merugikan negara Rp 10,7 miliar masih belum disidang.

Meski penyidik Unit Tipikor Polresta Depok menetapkan keduanya jadi tersangka sejak Agustus 2018 lalu, hingga kini Nur Mahmudi dan Harry masih menghirup udara bebas tanpa diharuskan wajib lapor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan penyidik Unit Tipikor Polresta Depok hingga kini terus bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna menyeret kedua tersangka ke meja hijau.

"Tetap koordinasi sama KPK, sama Mabes (Polri) juga," kata Argo kepada wartawan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/4/2019).

Perihal pernyataan Kajari Depok Sufari yang menyebut bahwa Nur Mahmudi dan Harry belum berstatus terdakwa karena penyidik Unit Tipikor Polresta Depok kekurangan barang bukti.

Tersangka korupsi pembebasan lahan Jalan Nangka Nur Mahmudi Ismail di Mapolresta Depok, Kamis (13/9/2018). 
Tersangka korupsi pembebasan lahan Jalan Nangka Nur Mahmudi Ismail di Mapolresta Depok, Kamis (13/9/2018).  (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA )

Argo menyebut penyidik yang menetapkan untuk tak menahan kedua tersangka karena pertimbangan subjektif masih berupaya merampungkan berkas agar dinyatakan lengkap atau P-21.

"Tentunya pasti kami lengkapi," ujarnya.

Sejak berkas dilimpahkan pada September 2018 lalu dan mulai bekerja sama dengan KPK, hingga kini Jaksa Peneliti Berkas Kejari Depok menyatakan bahwa berkas belum lengkap.

Sufari mengatakan belum lengkapnya alat dan barang bukti yang dimiliki penyidik Unit Tipikor Polresta Depok jadi sebab berkas perkara terus bolak-balik hingga empat kali.

Halaman
12
Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved