Ramadan 2019

Berawal dari Perjuangan Syekh Abubakar Melawan Kompeni, Ini Asal Muasal Nama Mangga Dua

Siapa sangka nama Mangga Dua sendiri berawal dari perjuangan para pahlawan. Salah satunya pahlawan itu ialah Sayyid Abubakar

Berawal dari Perjuangan Syekh Abubakar Melawan Kompeni, Ini Asal Muasal Nama Mangga Dua
TribunJakarta/Dionisius Arya Bima Suci
Suana di dalam Masjid Nurul Abrar dan makam Sayyid Abubakar bin Alwi Bahsan Jamalullail di kawasan Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (7/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, SAWAH BESAR - Daerah Mangga Dua selalui identik dengan kawasan perniagaan dan pecinan yang ada di ibukota.

Namun, siapa sangka nama Mangga Dua sendiri berawal dari perjuangan para pahlawan nasional yang berabad lalu melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Salah satu pahlawan itu ialah Sayyid Abubakar bin Alwi Bahsan Jamalullail atau yang kerap disapa Syekh Abubakar.

Ia merupakan ulama asal Timur Tengah yang turut berperang melawan Belanda dan berhasil merebut sebuah rumah milik pejabat kolonial yang kemudian ia jadikan sebagai masjid bernama Nurul Abrar.

Napak Tilas Syekh Abubakar, Ulama Asal Timur Tengah di Kawasan Niaga Mangga Dua

Menelisik Makam Keramat Mangga Dua di Pusat Niaga Ibukota

Pemilu, Mangga Dua Square Buka Lebih Siang

Masagus Hamdi (53), pengurus Masjid Nurul Abrar sekaligus keturunan Syekh Abubakar menuturkan, dulunya di depan masjid ini terdapat dua buah pohon mangga berukuran besar.

Setelah rumah milik kompeni Belanda direbut dan dijadikan masjid, lokasi tersebut kerap dijadikan area untuk berkumpul dan menyusun strategi melawan kompeni.

"Dulu mereka mempunyai kode tertentu yang biasa disebut mangga dua. Kode itu menunjuk pada lokasi dua pohon mangga yang berada di depan masjid ini," ucapnya kepada TribunJakarta.com, Selasa (7/5/2019).

"Disitu mereka menyusun strategi untuk melawan kompeni Belanda," tambahnya.

Sejak saat itulah, kawasan tersebut sering disebut sebagai Mangga Dua sampai saat ini.

"Dulu disini belum ada bangunan tinggi, hanya ada masjid ini dan dua pohon mangga itu, sisanya hanya rerumputan dan beberapa pohon kelapa," ujarnya.

Kini, kedua pohon tersebut sudah tidak ada dan kawasan Mangga Dua sudah berubah menjadi salah satu pusat perniagaan di ibukota.

Meski demikian, Masjid Nurul Abrar dan makam Syekh Abubakar atau yang biasa disebut 'Makam Keramat Mangga Dua' tetap bertahan ditengah bangunan-bangunan menjulang tinggi di kawasan tersebut.

"Beberapa puluh tahun lalu, ada pengembang yang ingin membeli masjid dan makam ini, mereka menawarkan uang puluhan sampai ratusan juta kala itu, tapi para pengikut Syekh Abubakar dan keturunannya menolaknya," kata Hamdi.

"Buat apa banyak uang kalau makam ulama dan lelulur kami digusur," tambahnya menjelaskan.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved