Ramadan 2019

Kisah Faisal Anak Kopassus Kelahiran Timor Leste, Islam Mampu Mengubah Perilakunya

Atanasius Putra Sengsara Da Silva (18) kini sudah mengenakan kopiah khas muslim dengan bordiran kaligrafi di pinggir-pinggirnya.

Tribunjakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Faisal atau Atanasius Putra Sengsara Da Silva (18), di sekolahnya, Madrasah Aliyah Soebono Mantofani, Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (8/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNKAKARTA.COM, CIPUTAT - Atanasius Putra Sengsara Da Silva (18) kini sudah mengenakan kopiah khas muslim dengan bordiran kaligrafi di pinggir-pinggirnya.

Faisal, panggilannya sekarang, sudah mualaf sejak hampir dua tahun lalu dan tinggal di pesantren mualaf An-Naba, serta bersekolah di Madrasah Aliyah (MA) Soebono Mantofani, Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel).

Ditemui di sekolahnya, Faisal menceritakan kisah hidupnya dari mulai lahir di Timor Leste hingga saat ini menetap di Ciputat.

Faisal lahir dari istri pertama seorang prajurit TNI, satuan elit Kopassus yang tengah bertugas di Timor Leste pada tahun 2001.

Dunia yang keras sudah akrab dengan Faisal bahkan sejak lahir.

Saat sang ibu melahirkannya, ayah Faisal sedang dalam bui lantaran dianggap melakukan kesalahan di satuannya.

"Nama Sengsara itu karena pas dilahirin, Bapak lagi di penjara," ujar Faisal sambil tertawa.

Tak lama, Timor Leste merdeka, dan Faisal tinggal di kampungnya, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Membenarkan kopiahnya yang miring, Faisal yang mengenakan pakaian Pramuka kembali menceritakan kisahnya.

Pelajar kelas XI IPS itu terang-terangan menyebut dirinya tumbuh dengan segala macam kenakalan remaja.

Ia mengaku sering mabuk-mabukan, ribut dengan kelompok remaja lain hingga seks bebas.

"Iya suka berantem dulu," ujarnya sambil tertawa.

Namun hidayah datang dari kakak sepupunya yang lebih dulu masuk Islam atau mualaf.

Faisal mengaku kagum dengan perubahan kakak sepupunya yang sifatnya menjadi sangat baik dan menghormati orang lain.

"Kagum sama abang sepupu, yang sudah masuk Islam, kelakuan berubah," ujarnya.

Ajarkan Kedamaian Islam, Sekolah di Ciputat Tangerang Selatan Ini Tampung Pelajar Mualaf

Akui Sudah Mualaf, Roger Danuarta Tanyakan Soal Ibunya Kepada Ustaz Adi Hidayat

Faisal pun diajak mengikuti abang sepupunya itu, namun di kepalanya masih bersarang stereotip tentang Islam.

"Awalnya saya menganggap Islam itu teroris," jelasnya.

Namun anggapannya berubah setelah ia akhirnya meninggalkan kedua orang tuanya dan ikut menjadi mualaf dan hijrah ke Ciputat, tepatnya Pesantren An-Naba.

Di sana ia diajarkan tentang tauhid dan penjelasan tentang Islam yang damai.

Faisal juga mengaku, awal belajar syariat Islam dari mulai salat, membaca Al-Quran dan puasa adalah hal yang berat.

"Awalnya, susah dibangunin pas sahur. Mepet sahurnya, kelaperan juga," ujarnya mengingat perjuangan belajar puasa.

Hampir dua tahun berselang, keberingasan dan kebiasaan buruknya dulu perlahan menghilang, dan sikapnya menjadi lembut.

Ia sudah bisa lepas dari alkohol, kebiasaan ribut dan seks bebas.

Faisal kini memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan, yaitu berkuliah di Al-Azhar Kairo, Mesir.

"Saya mau jadi guru di sini," ujarnya menatap ke gedung sekolahnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved