Pilpres 2019

Kisah Mantan Sopir Jadi Saksi Suara Jokowi-Maruf Amin: Singgung Pemberian Allah Melalui Jokowi-Ahok

Menjadi saksi Jokowi-Ma'ruf bagi Iwan Mulyadi adalah berkorban sekaligus membalas kebaikan Jokowi sewaktu masih Gubernur DKI Jakarta. Ini ceritanya.

Penulis: Leo Permana | Editor: Ilusi Insiroh
TRIBUNJAKARTA.COM/LEO PERMANA
Iwan Mulyadi, seorang koordinator saksi di wilayah Dapil 10 Jakarta Barat dalam Pemilu 2019 saat ditemui di Grogol Petamburan, Jakbar, Sabtu (4/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Leo Permana 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Menjadi saksi Jokowi-Maruf bagi Iwan Mulyadi adalah berkorban sekaligus membalas kebaikan kebijakan Jokowi sewaktu masih Gubernur DKI Jakarta.

Kerjaan sopir pribadi di Perumahan Permata Buana, Jakarta Barat, terpaksa ia lepas agar total mengawal perolehan suara Jokowi-Maruf di Pilpres 2019.

Padahal, gaji sopir lebih besar dari apa yang ia dapat sebagai Koordinator Saksi TKN Jokowi-Maruf untuk Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

"Kebetulan saya koordinator saksi, jadi memantau saksi-saksi yang di wilayah Dapil 10 Jakarta," cerita Iwan khusus kepada TribunJakarta.com, Sabtu (4/5/2019).

Terhitung dua minggu gabung sebagai saksi, pria kelahiran Betawi ini masih kerja tapi merasa ada yang aneh. Satu sisi bekerja tapi satu sisi harus all out menjadi saksi sehingga harus ada yang dikorbankan. 

Staf Ahok Diminta Saksinya Kawal Warisan Jokowi dan Ahok untuk Jakarta: Perhatikan Warga

Napak Tilas Syekh Abubakar, Ulama Asal Timur Tengah di Kawasan Niaga Mangga Dua

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin, menyampaikan visi misi di debat pertama Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin, menyampaikan visi misi di debat pertama Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme. (Kompas.com/Garry Lotulung)

"Saya pribadi kalau mendukung seseorang orang dan memang dia komit untuk warga, amanah, konsisten, saya akan berjuang habis-habisan."

"Akhirnya saya bismillah. Saya berhenti sebagai sopir. Saya ngomong dengan adik bos saya. Saya bilang mau berjuang nih untuk Jokowi-Amin," terang dia.

Alasan lainnya, Iwan menjadi saksi untuk memperjuangkan calegnya, yakni Ima Mahdiah dari PDI Perjuangan untuk Dapil Jakarta X.

Ima menjadi staf Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Persinggungan Ima dengan Ahok panjang, dimulai sejak masih mahasiswa di Universitas Paramadina.

Pajang Foto Ahok di Spanduk Kampanye, Ima Mahdiah Ceritakan Suka Dukanya: Didebat Warga

Cerita Caleg PDIP Kenal Sosok Ahok, Berawal dari Tugas Kampus, Kerja Bareng hingga Jadi Timsesnya

"Akhirnya saya berhenti tuh, saya enggak mikir lagi tuh keluarga bagaimana. Sebelumnya saya sudah ngomong dengan istri saya. Terserah ayah, insya Allah ke depannya kalau rezeki Allah sudah atur, kita bismillah sajalah kita berjuang untuk orang yang benar," kata Iwan.

Kesengsem gara-gara KJS

Ada ikatan batin yang cukup kuat Iwan dengan Jokowi. Cerita itu bermula ketika anaknya yang masih satu bulan setengah mengalami musibah, badannya membiru.

Biaya perawatan anaknya saat itu kurang lebih sampai Rp 50 juta, sementara Iwan hanya bekerja tak tentu, pernah menservis AC. Tak ada uang saat itu, apalagi Kartu Jakarta Sehat.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved