Kasudin Kesehatan: Belum Ditemukan Takjil Yang Mengandung Zat Berbahaya Di Jakarta Utara

Peninjauan terhadap takjil atau makanan untuk berbuka puasa dilakukan Pemerintah Kota Jakarta Utara sejak Rabu (8/5/2019) lalu.

Kasudin Kesehatan: Belum Ditemukan Takjil Yang Mengandung Zat Berbahaya Di Jakarta Utara
TribunJakarta/Afriyani Garnis
Wali Kota Jakarta Utara Syamsuddin Lologau saat menunjukkan sampling takjil yang diuji oleh petugas di Jalan Kebon Bawang VI RW 06, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (10/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Afriyani Garnis

TRIBUNJAKARTA.COM,  TANJUNG PRIOK - Peninjauan terhadap takjil atau makanan untuk berbuka puasa dilakukan Pemerintah Kota Jakarta Utara sejak Rabu (8/5/2019) lalu.

Hasilnya, hingga hari ini belum ditemukan takjil dan makanan sejenisnya yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Yudi Dimyati menerangkan, terdapat empat indikator uji zat kimia berbahaya dengan metode sampling Rapid Tester Laboratorium (RTL).

Di antaranya adalah boraks, formalin, Rhodamin B, dan Methanil Yellow.

Peninjauan hari ini dilakukan di bazar ramadan yang berlangsung di Jalan Kebon Bawang VI RW 06, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Yudi menyebutkan, seluruh makanan yang dijual diambil sampelnya tanpa terkecuali.

Sidak Pedagang Takjil di Kebon Bawang, Wali Kota Jakut Pastikan Tak Temukan Zat Kimia Berbahaya

Pengurus Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan Sediakan 80 Takjil Gratis Setiap Hari Selama Ramadan

Pemerintah Kota Jakarta Utara Gelar Buka Bersama di 25 RW, 100 Takjil Disiapkan

"Setiap jenis takjil kita uji sampling, baik itu berupa makanan dan minuman. Alhamdulillah hasilnya semua terbebas dari kandungan zat berbahaya," ujarnya, saat ditemui di lokasi, Jum'at (10/5/2019).

Jika terdapat takjil mengandung zat berbahaya, Yudi mengatakan pihaknya akan memberikan temuan itu kepada Suku Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) Jakarta Utara.

Sesuai prosedur yang berlaku, maka perdagangan yang kedapatan menjual takjil mengandung zat berbahaya dihentikan sementara sampai makanan yang dijualnya sudah benar-benar layak dikonsumsi.

"Kalau kedapatan menjual takjil berbahan kimia berbahaya, maka dihentikan sementara. Sampai pedagang itu menjual kembali takjil yang berkandungan sehat," tutupnya.

Penulis: Afriyani Garnis
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved