Hadiri Panggilan Bareskrim Polri, Kivlan Zen: Tuduhan Saya Melarikan Diri ke Brunei Mana Tiketnya?

Mengenakan kemeja batik warna cokelat, Kivlan langsung disambut kerumunan wartawan. Menghadapi pertanyaan awak media, senyum tak pernah lepas.

Tribunnews.com/Vincentius Jyestha
Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein terlihat memenuhi panggilan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri untuk diperiksa atas tuduhan makar yang dilakukannya. 

Kivlan Zen menerangkan tujuannya pergi ke Batam bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk bertemu dengan istri, anak, dan cucunya.

"Di sana ada cucu saya, istri saya, saya ke sana bukan untuk melarikan diri," ucap Kivlan Zen.

 Rayakan Hari Ibu Internasional, Putra Prabowo Pajang Foto Titiek Soeharto Muda Singgung Sosok Kuat

 Belanja Parfum & Sabun Sampai Rp39 Juta, Nikita Mirzani: Hanya Orang Kaya yang Beli

Ia lantas menegaskan dirinya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpangkat Mayor Jenderal yang telah melakukan kerja nyata untuk Indonesia.

"Saya ini adalah Tentara Nasional Indonesia, saya ini Mayor Jenderal TNI yang sudah punya kerja nyata untuk Indonesia ini," jelas Kivlan Zen.

Kivlan Zen kemudian mengungkit jasa-jasa yang pernah ia lakukan untuk Indonesia.

Mulai dari pembebasan sandra, hingga memperjuangkan kemerdekaan Papua.

 Sule Rindu Andre Taulany Pasca Diistirahatkan dari Program TV, Rina Nose Nangis

 Terciduk! Pria Ancam Penggal Kepala Jokowi Malah Berpose Begini, Kapolres Tangerang Beri Pesan

"Saya pernah membebaskam sandra, saya pernah mendamaikan pemberontak F ilipina sukses tahun 1996," jelas Kivlan Zein.

"Saya membebaskan sandra tahun 2016 tahun 1973, tahun 1981 di Papua,"

"Saya sudah berbuat untuk Repnlik ini,"

"Saya ikut menegakkan kemerdakaan di Papua, di Nduga saya bertempur dan saya terluka," tamabahnya dengan berapi-api.

Kivlan Zen menegaskan tak benar apabila ada yang menyebutnya melakukan makar.

"Tidak benar untuk makar," kata Kivlan Zein.

 Pria Ancam Penggal Jokowi Berpose Begini Saat Ditangkap, Kapolres Tangerang: Kau Masih Muda

 Habiskan Rp 39 Jutaan Demi Beli Parfum & Sabun, Nikita Mirzani: Hanya Artis Ternama yang Beli

Kivlan Zen dilaporkan

Peristiwa di Terminal 3, Gate 2, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (10/5/2019) berawal dari adanya laporan seseorang ke Bareskrim Polri pada 7 Mei 2019.

Berdasarkan laporan tersebut, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein dilaporkan oleh seseorang bernama Jalaludin.

Kivlan Zen dilaporkan atas penyebaran berita bohong atau hoaks serta tentang tentang keamanan negara atau makar.

Ia dilaporkan dengan barang bukti berupa rekaman video yang diduga terjadi pada 26 April 2019.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo pun membenarkan adanya pelaporan tersebut.

Pelapor pun memberikan bukti berupa rekaman videonya.

Atas hal tersebut, kepolisian pun melakukan pemeriksaan terhadap keaslian dari video tersebut.

"Flashdisk berisi ceramah itu masih dianalisa dulu oleh analis Bareskrim," jelas Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Rabu (8/5/2019).

Tidak nyaman

Kuasa hukum Kivlan Zen, Pitra Romadoni, mengatakan kliennya merasa kecewa atas sikap polisi di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat, (10/5/2019)

Ia meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mendengar keluhan dari kliennya.

"Klien saya mengeluh dan keberatan. Ini harus saya sampaikan walaupun ini pahit didengar Pak Kapolri dan kepolisian, bahwasanya Kivlan Zen merasa keberatan dan kecewa akibat oknum kepolisian yang datang menjumpai beliau, bahkan Kivlan menyatakan dikejar-dikejar layaknya seorang penjahat," ujar Pitra di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (11/5/2019).

Menurut Pitra, tindakan yang dilakukan oknum kepolisian tidak mencerminkan profesionalitas dari anggota Polri.

Lebih jauh, Pitra mengungkapkan bahwa kliennya merasa tertekan karena dibuntuti oleh pihak kepolisian.

"Yang jelas dia merasa saat ini tidak aman. Ataupun dia merasa tertekan tidak nyaman dengan tindakan itu," kata Pitra.

Laporkan balik pelapornya dan salahkan Imigrasi

Kivlan Zen melaporkan balik pelapornya, Jalaludin, ke Bareskrim.

Pelaporan dilakukan kuasa hukum Kivlan Zen, Pitra Romadoni, Sabtu (11/5/2019).

Pitra mengungkapkan Kivlan Zen sangat keberatan dengan laporan yang dilayangkan Jalaludin.

Kivlan Zen mengaku tidak pernah melakukan perbuatan makar.

"Karena klien kami Kivlan Zen tidak pernah melakukan makar seperti apa yang dituduhkan saudara Jalaludin dalam laporan polisinya," tutur Pitra di Bareskrim Polri, Sabtu (11/5/2019).

Menurut Pitra, unjuk rasa yang dilakukan Kivlan Zen tidak mengandung unsur makar.

Pitra menyebut unjuk rasa yang dilakukan Kivlan Zen diatur dalam undang-undang.

"Kenapa beliau ingin berpendapat ataupun protes tiba-tiba ada tuduhan makar seperti yang dilaporkan oleh para pelapor. Sehingga ini membuat tidak adil bagi klien kami, Kivlan Zen," ujar Pitra.

Pitra Romadoni pun menanggapi pencabutan status cegah ke luar negeri oleh Direktorat Jenderal Imingrasi Kementeriam Hukum dan HAM terhadap kliennya.

Pitra berbalik menyalahkan Ditjen Imigrasi yang dinilainya mengambil langkah terburu-buru dengan mengeluarkan pencegahan untuk Kivlan.

Dirinya menilai pencegahan tersebut merugikan kliennya.

"Makanya saya bilang pada Ditjen Imigrasi, saudaraku sahabat-sahabat ku tanpa mengurangi rasa hormat, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Soalnya tindakan yang saudara lakukan tersebut menyebabkan kerugian bagi saudara Mayjen Kivlan Zen," ujar Pitra.

Menurutnya pencegahan tersebut baru bisa diberikan jika kliennya sudah dinyatakan sebagai tersangka.

Dirinya meminta Ditjen Imigrasi untuk tidak berlaku semena-mena terhadap pihak yang tidak berkuasa.

"Ditjen Imigrasi agar berhati-hati lah. Jangan semena-mena terhadap orang yang tidak berkuasa karena kekuasaan itu hanya sementara," tutur Pitra.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved