Breaking News:

Cerita Kiai NU Diundang Menteri Pendidikan yang Muhammadiyah, Bahas Madrasah Insaniyah

Undangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy untuk dirinya membuat KH Cholil Nafis bertanya-tanya.

Penulis: Y Gustaman | Editor: Y Gustaman
Istimewa
Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis membagi cenderamata untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy di Kemendikbud, Jakarta, Senin (13/5/2019). 

Ternyata, sambung Kiai Cholil, Prof Muhadjir senang dan akrab dengan tradisi bahkan anaknya bersekolah di sekolah NU.

Saat mengisi seminar di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok tahun lalu, Prof Muhajir menyempatkan ziarah kubur ke makam almarhum Kiai Hasyim Muzadi.

Anak Prof Muhajir bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Sabilillah Malang yang didirikan tokoh NU KH Tholhah Hasan.

"Kalau warga NU menyatu dan bersinergi dengan Muhammadiyah maka Indonesia akan aman dari radikalisme dan Islam akan menjadi nilai membangun bangsa dan negara," kata Kiai Cholil.

Dalam ceramahnya, Kiai Cholil menyinggung pembentukan karakter dalam pendidikan lebih penting dari pengetahuan itu sendiri.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengisi ceramah Ramadan menjelang berbuka puasa ata undangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy di Kemendikbud, Jakarta, Senin (13/5/2019).
Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengisi ceramah Ramadan menjelang berbuka puasa ata undangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy di Kemendikbud, Jakarta, Senin (13/5/2019). (Istimewa)

"Karena pengetahuan itu hanyalah pembelajaran. Sementara pembentukan karakter itu dari pendidikan," terang dia.

Dia menjelaskan puasa menjadi sarana latihan bagi manusia untuk memanusiakan manusia. Inilah yang kemudian disebut dengan madrasah insaniyah.

"Jadi tak kalah pentingnya dari Kementerian Pendidikan adalah sebuah era pendidikan yang diberikan oleh Allah berupa puasa," terang dia.

Ketua Komisi Dakwah MUI ini melanjutkan, negara memang seharusnya hadir sebagai perekat dalam mengimplementasikan ajaran Islam yang moderat.

Nilai takwa yang hendak dicapai dalam ibadah puasa harus terimplementasi membangun persatuan umat dan memajukan negara.

"Bahwa bekerja dan membangun negara adalah perintah agama dan menjalankan agama terintegresi dengan membangun negara dan menyejahterakan bangsa," ungkap dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved