Cerita Para Imigran Afghanistan Jalani Puasa Ditengah Ketidakpastian Hidup di Kalideres

Mereka terlihat memenuhi trotoar di depan kantor Rudenim Jakarta dengan radius sepanjang sekitar 100 meter.

Cerita Para Imigran Afghanistan Jalani Puasa Ditengah Ketidakpastian Hidup di Kalideres
TribunJakarta/Elga Hikari Putra
Para imigran pengungsi asal Afghanistan yang hidup mengemper di sekitar Rudenim Jakarta menunggu waktu berbuka puasa. 

Sedangkan untuk jenis makanan lain, biasanya baru mereka makan apabila ada kiriman dari relawan.

"Kita semua sama-sama di sini. Tidurnya juga disini, tapi kalau mandi kita pakai toilet umum disana," kata Ali sambil menunjuk ke arah toilet umum.

Soal menu khas saat Ramadan di Afghanistan, Ali juga punya cerita. 

Biasanya, warga Afghanistan menyantap Aush saat berbuka puasa yakni semacam sup buah bila di Indonesia.

"Kaya sup gitu ada buah-buah yang ada disana (Afghanistan). Misal buah apel, orange dan buah lain. Tapi sekarang semenjak disini sudah tidak pernah makan itu," bebernya.

Berharap Dapat Suaka

Ali dan puluhan imigran pengungsi di tempat ini sejatinya tak mau terus menerus berada di tempat ini.

Mereka memiliki harapan untuk bisa diberangkatkan dan mendapatkan suaka di Australia, menghindar jauh dari konflik tak berkesudahan yang terjadi di negaranya.

"Semoga UNHCR cepat membantu kami agar bisa mendapatkan suaka di Australia misalnya agar kami bisa hidup tenang. Karena yang kami butuhkan adalah ketenangan dan di sini kami tidak boleh kemana-mana dan tidak boleh kerja," ujarnya.

Hal senada disampaikan Farisa (13) yang telah dua tahun terakhir hidup luntang-lantung mengikuti kedua orangtuanya demi bisa mendapatkan suaka.

"Saya dan keluarga saya pergi dari negara saya karena sudah tidak kuat dengan keadaan yang ada disana," kata Farisa.

Penulis: Elga Hikari Putra
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved